Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Kamis, 22 September 2011

Kisah Perjalan Sayyidah Nargis, Ibunda Imam Zaman afs



Surat untuk putri dari Romawi
            Syekh Tabarsi, dalam bukunya al-ghaibah menuliskan riwayat dari bashar al-anshari, pelayan imam Naqi as. Suatu hari, Imam as berkata, ‘wahai Basyar, engkau berasal dari kaum Anshar, yang selalu setia kepada kami selama ini. Karena itu, aku telah memilihmu untuk menjalan sebuah misi penting.
Imam Naqi as kemudian menulis surat dalam bahasa romawi, lalu menutupnya dan diberi cap khusus milik Imam. Beliau as lalu memberikan surat itu beserta satu kantong berisikan 220 uang emas dinar. Basyar diperintahkan untuk pergi ke Baghdad dan menunggu di jembatan sungai Furat. Imam mengatakan pada Basyar bahwa di tepi sungai Furat itu dia akan mendapati perahu-perahu yang membawa para tawanan perempuan yang akan dijual sebagai budak. ‘perhatikanlah dari jauh, akan ada seorang pedagang budak bernama Umar bin Yazid an-nakhas. Tunggu sampai dia menggunakan pakaian sutra. Perempuan itu menggunakan cadar dan menolak membuka cadarnya, dan menolak siapapun menyentuhnya. Dia akan berteriak dalam bahasa Romawi untuk menghindarkan dirinya dari penodaan’ jelas Imam Ali Naqi as.  Selanjutnya, imam menambahkan, ‘seorang pembeli akan mengagumi kesuciannya, sehingga menawarkan uang 300 dinar kepada pedagang budak. Perempuan itu akan berkata padanya, ‘aku tidak menginginkanmu, meskipun kau menggunakan baju raja Sulaiman dan memiliki kerajaannya, jadi jangan buang-buang uangmu untukku.
Si pedagang akan berkata, ‘apa maksudmu? Bagaimanapun, engkau akan kujual!’ lalu perempuan itu akan menjawab, ‘mengapa terburu-buru? Aku akan memilih pembeli yang disukai hatiku, yaitu pembeli yang setia dan jujur.’ ‘Pada saat itu’ kata Imam kepada basyar, ‘datangilah pedagang budak itu dan katakana padanya bahwa engkau membawa surat dari seorang pria mulia yang ditulis dalam bahasa Romawi. Tunjukkan surat ini pada perempuan itu. Jika dia setuju, maka belilah budak perempuan itu.
            Setelah mendengarkan semua pesan Imam Ali Naqi as, Basyar pun berangkat menuju Baghdad. Benar saja, ia menyaksikan ada seorang perempuan dengan karekteristik seperti yang dikatakan Imam Naqi as. Basyar segera menyerahkan surat imam Naqi as kepadanya. Perempuan itu menangis setelah membaca isi surat tersebut, lalu segera berkata kepada penjualnya, ‘juallah aku kepada pemilik surat ini!’ setelah tawar menawar, akhirnya si penjual menerima harga sejumlah uang yang telah diberikan oleh Imam Naqi as kepada Basyar. Basyar melihat perempuan itu tersenyum senang. Lantas, Basyar pun membawa ke tempatnya menginap selama di Baghdad. Ketika tiba disana, Basyar melihat perempuan itu kembali membuka surat dari Imam dan menciumnya.

Kisah hidup Malika si putri Romawi
                Basyar pun bertanya, ‘mengapa engkau mencium surat itu, padahal engkau tak tahu siapa penulisnya?’ perempuan itu menjawab, ‘engkau tak tahu betapa mulianya keturunan Nabi Muhammad ! dengarkan aku baik-baik. aku adalah Malika, anak Yashoa, putra kaisar romawi. ibuku keturunan Shimeon, murid Isa putra Maryam. Aku akan menceritakan kepadamu kisah kehidupanku.
            ketika aku berusia 13 tahun, kakekku, kaisar Romawi, berniat menikahkanku dengan keponakkannya. Dia mengundang 300 para pengikut Isa as, diantaranya adalah para pendeta dan 700 orang dari kalangan terhormat. Dia juga mengundang 4000 orang pejabat, pimpinan militer dan pembesar kabilah.’ Malika melanjutkan, ‘ketika mempelai laki-laki duduk di atas tahta yang dikelilingi oleh salib-salib besar, dan para uskup mulai berdiri dan membuka injil mereka, istana tiba-tiba berguncang. Salib-salib berjatuhan, dan tahta pun runtuh sehinga mempelai laki-laki terjatuh tak sadarkan diri. Para uskup menjadi pucat dan gemetar. Seorang uskup berkata, ‘wahai Kaisar, biarkan kami pergi dari upacara ini agar kami tidak melihat tanda-tanda keruntuhan agama Kristen ini.’ ‘kakekku menjadi marah. Dia segera memerintahkan agar salib ditegakkan kembali dan upacara pernikahan dilanjutkan. Namun kejadian itu berulang kembali. Tamu-tamu berhamburan keluar istana karena takut.
            Setelah kejadian itu, Malika bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat Nabi Isa as dan Hawariyyun (murid setia Nabi Isa as) berkumpul disana. Lalu datanglah Nabi Muhammad saw, Imam Ali as disertai 11 putra keturunannya. Nabi Muhammad saw berkata, ‘wahai Ruhullah, aku datang untuk meminang anak putrid washimu Malika untuk dinikahkan dengan putraku ini!’ sambil menunjuk kea rah Imam Hasan al-askari as. Lamaran pun diterima, lalu Nabi Muhammad saw memimpin akad nikah antara Imam Hasan Askari as dan Sayyidah Malika ra. Malika tidak menceritakan mimpinya itu kepada siapapun, karena takut akan dibunuh. Namun, ia pun jauh cinta kepada Imam Hasan Askari yang ditemuinya dalam mimpinya itu. ‘cintaku kepada Imam Askari membuatku enggan makan dan minum. Hari demi hari, badanku semakin kurus lemah. Kakekku memanggil tabib, namun tak ada seorang tabib pun yang dapat mengobatiku. Sampai akhirnya, aku memohon kepada kakekku agar berhenti menyiksa para tawanan muslim dan melepaskan mereka. Setelah permintaanku dipenuhi, kesehatanku membaik dan selera makanku kembali.’ Demikian tutur Malika kepada Basyar. Beberapa waktu kemudian, Malika kembali bermimpi. Kali ini dia didatangi dua perempuan yang bercahaya. Orang-orang lain dalam mimpinya mengatakan bahwa kedua perempuan itu adalah Sayyidah Maryam as dan Sayyidah Fathimah as. Sayyidah Fathimah as berkata kepada Malika, ‘jika engkau ingin menikah dengan putraku, engkau harus menjadi muslim.’ ‘aku pun segera menggenggam tangan Sayyidah Zahra as dan menerima islam. Sayyidah Zahra as pun mempertemukanku dengan putranya, Imam Askari as’ demikian tutur Sayyidah Nargis ra. Beberapa hari kemudian, ia kembali bermimpi, kali ini bertemu dengan Imam Hasan askari as. Malika bertanya kepada beliau, ‘bagaimana aku bisa menjadi istrimu?’ Imam menjawab, ‘dalam waktu dekat, kakekmu akan mengirim pasukan untuk memerangi kaum muslimin. Ikutilah pasukan itu.’ Sayyidah Malika pun menuruti perkataan Imam Hasan as. Ia menyamar menjadi pelayan perempuan dan berjalan bersama rombongan pelayan. Namun, akhirnya dia dan para pelayan lainnya malah ditawan oleh pasukan Muslim. Dia tidak mengatakan kepada siapapun bahwa dirinya adalah Malika, cucu kaisar Romawi. Ketika si pedagang budak menanyakan namanya, dia menjawab, ‘namaku Nargis’. Dengan demikian, sejak saat itu Sayyidah Malika dipanggil Nargis.
            Kemudian Basyar mengantarkan Sayyidah Nargis ke Samarra untuk menemui Imam Ali Hadi as. Imam Hadi as berkata padanya, ‘aku ingin member hadiah kepadamu. Manakah yang kau pilih, hadiah 10.000 dinar atau sebuah kabar gembira?’ Sayyidah Nargis ra menjawab, ‘aku memilih kabar gembira berupa putra yang akan lahir dariku.’ Imam menjawab, ‘engkau dapatkan kabar gembira itu. Engkau akan melahirkan anak yang akan menjadi pemimpin di timur dan di barat, dan akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dunia digelapi oleh ketidak-adilan dan tirani
            Segera setelah itu, Sayyidah Nargis ra pun dinikahkan dengan putra Imam Ali Hadi as, yaitu Imam Hasan askari as, ayahanda Imam Zaman afs. Tak lama kemudian, dari rahimnya lahirlah Imam Zaman afs. Syekh Abbas Qummi berkata, ‘salah satu nama Sayyidah Nargis, ibu Imam Mahdi afs adalah Shaqil yang berarti ‘pemberi kecemerlangan’. Nama ini diberikan karena sewaktu janin Al-Mahdi diletakkan dalam rahimnya, kemilau cahaya memancar meliputi seluruh badannya.
Dikutip dari Majalah ‘itrah, juli-agustus 2011 dengan sedikit perubahan kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar