Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Kamis, 12 Januari 2012

Imam Ali as di Mata Sahabatnya, ‘Adhi bin Hatim ra

 ‘Adhi bin Hatim adalah salah seorang sahabat dan pecinta Imam Ali bin Abi Thalib as. Laki-laki ini masuk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah saw, dan dia masuk Islam dengan sesungguhnya. Pada masa kekhalifahan Imam Ali as dia berada di pihak Imam Ali as. Bahkan ketiga anak laki-lakinya, yaitu Tharif, tharaf, dan thaarif, syahid dalam perang Siffin membela Imam Ali as. Setelah syahidnya Imam Ali as dan jatuhnya kekhalifahan ke tangan Muawiyah, secara kebetulan ‘Adhi bin Hatim bertemu dengan Muawiyah.
Muawiyah berharap dengan  mengingatkan ‘Adhi bin Hatim tentang musibah kematian ketiga anak laki-lakinya, maka ‘Adhi bin Hatim akan berbicara mengenai Imam Ali as sesuai seleranya. Muawiyah bertanya kepada dia, ‘bagaimana ketiga anak laki-lakimu: Tharif, tharaf, dan thaarif?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘ketiganya telah syahid dalam perang Siffin di haribaan Ali.’ ‘Adhi bin Hatim sengaja menambahkan kata-kata ‘di haribaan Ali’ dengan maksud untuk menunjukkan kerelaan dan kebanggaan akan kesyahidan tiga orang putranya itu. Muawiyah berkata lebih lanjut, ‘Ali telah berlaku tidak adil terhadapmu, sementara dia mengirimkan anak-anakmu ke medan perang sehingga terbunuh dia malah menempatkan anak-anaknya di belakang medan pertempuran supaya tetap hidup.’ Mendengar kata-kata Muawiyah itu ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘justru sebaliknya saya telah berlaku  tidak adil terhadap Ali, karena saya membiarkannya terbunuh sementara saya masih hidup.
                Muawiyah melihat dia tidak memperoleh hasil dari rencananya itu, lalu dia mengubah pembicaraannya. Muawiyah berkata kepadanya, ‘gambarkanlah tentang Ali kepadaku.’ ‘Adhi bin Hatim berkata, ‘saya tidak mampu.’ Muawiyah mendesak, ‘tidak mungkin itu.
                Mendengar itu ‘Adhi bin Hatim pun berkata, ‘kalau sekiranya memang demikian, maka demi Allah, Ali adalah orang yang memiliki wawasan yang jauh, sangat kuat, bicara jelas, memutuskan perkara secara adil, ilmu memancar dari seluruh aspek kehidupannya, yang dari celah-celahnya meluncurlah hkimah. Dia orang yang sangat tidak menyukai kesenangan hidup dunia dan akrab dengan kegelapan malam. Ali adalah orang yang selalu banjir airmata, banyak berpikir, telapak tangannya selalu terbuka, tak pernah berhenti mengajak berdialog dirinya sendiri, berpakaian dan makan secara sangat sederhana.’
‘Demi Allah, dia tidak berbeda dengan kami. Selalu memberi ketika kami minta, menyambut bila kami datangi, dan selalu memenuhi undangan kami. Kami, demi Allah, betul-betul dekat dengannya. Kendati kami begitu dekat, namun kami tidak pernah berani berlagak sombong di hadapannya karena keagungannya. Dan bila dia tersenyum, ah, senyumannya sungguh gemerlap laksana mutiara.’
‘Dia adalah orang yang menghormati para ahli agama, mencintai orang-orang miskin. Orang-orang yang kuat tidak bisa mengharapkan kebatilannya, dan orang-orang yang lemah tidak pernah putus harapan dari keadilannya.’
‘Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku pernah menyaksikan apa yang dilakukannya di suatu malam yang gelap gulita dengan bintang-bintang yang sedang berkedip. Bibirnya bergetar mengucapkan kepasrahannya kepada Allah dan menangis demikian pilu. Masih segar dalam ingatanku, bahwa saat itu dia berkata, ‘wahai dunia, rayulah orang selainku. Aku menolak kedatanganmu dan tak mungkin menyambut bujukanmu. Pergilah, pergilah dari sisiku. Aku telah mentalakmu tiga kali, dan tidak mungkin aku merujukmu.  Umurmu pendek, kehidupanmu hina, sedang bahayamu sangatlah besar. Alangkah murahnya harga dirimu sebagai bekal, sedangkan jarak yang mesti kutempuh sangat panjang dan berat. ’ ’ (Safinah al-bihar, jil.2, hal. 170)
Ketika perkataan ‘Adhi bin Hatim sampai di sini, mulailah airmata Muawiyah berjatuhan, lalu Muawiyah pun mengambil sapu tangannya dan mengusapkannya ke kedua matanya. Ketika itu Muawiyah berkata, ‘semoga Allah swt merahmati Ali, sungguh benar apa yang kamu katakan. Sekarang, katakan bagaimana perasaanmu setelah berpisah dengan Ali ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘keadaanku tidak ubahnya seperti seorang ibu yang anaknya disembelih di pangkuannya.’ Muawiyah bertanya kembali, ‘tidak bisakah engkau melupakannya untuk sejenak ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘bagaimana mungkin kami bisa melupakannya!
(Dikutip dari buku ceramah-ceramah seputar persoalan penting agama dan kehidupan, Murtadha Muthahhari, hal. 95-97, buku kedua)

2 komentar:

  1. Assalamu Alaika Ya Amiral Mukminin.....
    Semoga kita termasuk orang2 yg senantiasa berjuang untuk melanjutkan misi Imam Ali kw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin
      Allahumma Shalli ala Muhammad wa ali Muhammad wa 'ajjil farajahum

      Hapus