Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Kamis, 01 Maret 2012

Syeikh Jawad Mughniyah, Pakar Hukum Kontemporer

Meskipun banyak tantangan dan rintangan dalam perjalanan hidupnya, Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah memulai perjalanan dengan menimba ilmu keislaman dan menjadi salah satu pakar hukum terkenal di Lebanon pada abad yang lalu. Syeikh Jawad Mughniyah telah menulis lebih dari 60 buku dan beberapa bidang ilmu lainnya telah beliau teliti, termasuk tema yang membahas tentang "Pentingnya Persatuan Antar Mazhab".

Dalam penelitian ini, beliau mengadakan pertemuan dengan beberapa pemimpin besar "Gerakan Persatuan" termasuk salah satu dari mereka adalah Syeikh Shaltut. Biografi ini menceritakan tentang perjalanan hidup dan pemikiran-pemikiran beliau dalam menghadapi berbagai problema termasuk tema tentang "Persatuan" yang dibutuhkan untuk meninjau kembali proses ijtihad dan meningkatkan peran serta tanggung jawab dari seminar-seminar keislaman yang sering diadakan.
LATAR BELAKANG KELUARGA
Syeikh Jawad menggunakan nama keluarganya yaitu "Mughniyah" dengan alasan beliau tiba di Jabal Amil-Lebanon pada abad ke-8 Hijriah, dimana pada saat itu terdapat aliran agama yang disebut "Mughniyah" di Algeria. Anak cucu Mughniyah adalah keturunan keluarga terpandang dan terhormat di Beirut. Sebagian besar ulama agama terkemuka adalah dari keluarga Mughniyah termasuk Allamah Syeikh Abdul al-Karim bin Syeikh.
Ayah Syeikh Mughniyah adalah Syeikh Mahmud, beliau adalah sosok yang sangat dihormati pada zaman itu. Syeikh Mahmud lahir pada tahun 1289 H di kota Najaf, Iraq yang kemudian mengikuti kedua orang tuanya ke Jabal Amil -Lebanon Selatan. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya beliau kembali ke Najaf untuk menghadiri seminari Islam dibawah pengawasan beberapa Ayatullah terkemuka saat itu antara lain: Ayatullah Naini, Ayatullah Isfahani dan Ayatullah Agha Dhiya al-din Iraqi. Setelah itu beliau kembali ke kota asalnya untuk tinggal di Maraka, desa kecil di Lebanon selatan.
Beliau menyibukkan diri dengan menulis buku-buku dan memberikan bimbingan agama kepada masyarakat di daerah tersebut. Dalam sebuah buku "Takmilah al-Amal al-Amal" diceritakan bahwa Syeikh Mahmud adalah seorang peneliti yang serius dengan isu-isu akademisi dan saat itu sangat sedikit bangsa Arab yang dapat menandinginya dalam menjelaskan berbagai isu yang ada. Beliau juga tahu bagaimana membuat dan menyusun rangkaian puisi Islam di Najaf. Syeikh Mahmud meninggal dunia pada usia 44 tahun dan meninggalkan beberapa keturunan yaitu : Syeikh Ahmad Mughniyah, Syeikh Abdul al-Karim Mughniyah dan Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah, tokoh utama kita pada artikel kali ini.
TEMPAT KELAHIRAN DAN MASA KANAK-KANAK
Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah lahir pada tahun 1324/1904 Masehi di sebuah perkampungan kecil yang bernama Tirdabba, perkampungan ini terletak di Sur (Tyre) Lebanon. Sur adalah kota kecil di tepian laut Mediterania, kota ini adalah salah satu kota kuno Phoenisia dan menjadi pusat perniagaan terkenal.
Beliau kemudian diberi nama "Muhammad Jawad" sebuah nama besar dan dihormati oleh ayahnya. Pada usia 4 tahun, Muhammad Jawad telah kehilangan ibunya, ibu beliau adalah keturunan dari Sayyidah Fatimah Zahra, putri dari Rasulullah Saw. Setelah kepergian ibunda tercinta, Syeikh Muhammad Jawad mengikuti ayahnya ke Najaf, Irak yang merupakan tempat beliau belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan termasuk bidang matematika dan bahasa Persia. Beliau tinggal di Najaf selama 4 tahun setelah itu ayahnya kembali ke Lebanon karena permintaan dari penduduk Abbasiah.
Kondisi keuangan ayah Syeikh Muhammad Jawad tidak mencukupi meskipun beliau adalah seorang ulama terkenal di daerahnya. Ayahnya dapat membangun tempat tinggal mereka dengan bantuan masyarakat Abbasiyah dan untuk pembayaran pembangunan rumah itu, ayah beliau mendapatkan pinjaman dari Ismail Saygh, seorang pandai besi. Kemudian ayahnya menyewakan tempat tinggal mereka untuk membayar cicilan pinjaman. Sebelum sempat menyelesaikan cicilan rumah, ayah beliau meninggal dunia pada tahun 1344 H.
Pada saat itu Muhammad Jawad berusia 12 tahun dan beliau sangat terpukul dengan kepergian ayahnya itu. Akhirnya, Ismail Saygh mengambil kepemilikan rumah tersebut untuk menutupi kekurangan tagihan pinjaman ayah beliau dan memberikan bagian keluarga beliau kepada sang kakak tertua dan pamannya. Muhammad Jawad beserta kakak termuda meninggalkan rumah yang dihuninya itu untuk kemudian tinggal di rumah kakak tertua beliau di Tirdabba.
Perubahan tempat tinggal dan kehilangan kedua orang tua, hanyalah awal dari kesulitan yang dihadapi oleh Muhammad Jawad. Bisa dikatakan bahwa beliau tidak memiliki barang apapun, kecuali sebuah tempat tidur dan itupun harus beliau tinggalkan ketika pindah ke rumah saudara tertuanya. Selain itu, beliau juga harus tidur di lantai meskipun saat musim dingin dan akibatnya menimbulkan penyakit rematik. Pada waktu itu, beliau pergi tanpa makan berhari-hari. Masa hidupnya dia lalui dengan penuh semangat, beberapa catatan menulis bahwa beliau memulai usaha dari menjual manisan tradisional (halwa) dan juga buku-buku. Tidak terlalu jelas bagaimana beliau berhasil dalam usahanya itu tapi ada beberapa bukti yang mengatakan bahwa kondisi ekonomi beliau mulai membaik.
MASA PENDIDIKAN
Keinginan dan kemauan belajar yang tinggi sangat tertanam kuat dalam diri Muhammad Jawad dan merupakan prioritas utama bagi beliau meskipun kesulitan dan kesengsaraan di alami dalam kehidupannya. Pendidikan dasar beliau tempuh di Lebanon dan beliau juga mempelajari banyak buku, salah satunya adalah buku "Qatr al-Nida'" dan "al-Ajrumiyah".
Muhammad Jawad kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Seminari Islam yang terletak di Najaf, Irak. Beliau belajar dibawah pengawasan ulama-ulama terkemuka di kota itu. Meskipun keuangan beliau tidak mencukupi untuk mendanai perjalanannya dan juga tanggung jawab untuk melunasi pajak tanah yang belum diselesaikan oleh ayahnya, beliau tidak dapat langsung melaksanakan keinginannya. Jika beliau tidak melunasi pajak tanah maka tidak akan mendapatkan ijin dari pemerintahan untuk melakukan perjalanannya ke Najaf, Irak.
Meskipun begitu, Muhammad Jawad tetap dengan kebulatan tekadnya. Dengan melalui perantaraan Ahlul Bait, beliau akhirnya bisa melewati rintangan tersebut. Beliau bertemu dengan seorang Armenia dari Alexandria yang tinggal di Lebanon, orang Armenia ini mengangkut Muhammad Jawad ke Irak tanpa surat-surat perjalanan resmi. Peristiwa ini beliau tuliskan di awal buku perjalanan hidupnya, Muhammad Jawad memanggil pengemudi baik hati itu dan memberikan penghormatan dengan perkataan seperti ini "Sejak saat itu berlalu setelah hampir 30 tahun, saya tidak akan pernah melupakan dan akan selalu mengingatnya karena dialah orang pertama yang pernah saya temui, dimana dia sangat peduli dan mencintai sesama umat manusia."
Setibanya beliau di Irak, Muhammad Jawad meneruskan perjalanan ke Najaf untuk belajar. Setelah melengkapi pelajaran-pelajaran dasar, pelajar muda ini mengikuti tingkatan yang lebih tinggi dibawah pengajaran beberapa ulama besar antara lain: Ayatullah Muhammad Husein Karbala'i, Ayatullah Sayid Husein Hamani dan Ayatullah Abu al-Qasim al-Khu'i.
Muhammad Jawad belajar dibawah pengawasan para ulama besar ini lebih dari sebelas tahun meskipun dengan kesulitan keuangan. Tetapi, ketika beliau mendapatkan berita bahwa kakak tertuanya telah wafat, beliau memutuskan untuk meninggalkan kota Najaf dan kembali ke kota asalnya Lebanon. Setelah acara pemakaman kakak tercintanya, para penduduk meminta agar Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah yang terkenal sebagai ahli tafsir dan ilmu-ilmu keislaman serta memiliki kebaikan akhlak untuk menjadi imam mesjid di daerah tempat tinggal kakaknya. Akhirnya beliau menerima permintaan masyarakat tersebut dan di aktifkan sebagai imam shalat berjama'ah. Selain itu juga, Muhammad Jawad mengajarkan ilmu al-Quran dan pelajaran-pelajaran keislaman lainnya.
Syeikh Mughniyah merasa terganggu oleh kebiasaan budaya yang kurang baik dari masyarakat di daerah tersebut. Beliau juga berat hati mendapatkan pemasukkan keuangan dari masyarakat. Setelah 2 tahun tinggal di Tir Dabba, tepatnya pada tahun 1558 H, beliau pindah ke sebuah desa kecil yang bernama Tir Harfa, di daerah Wadi al-Sarwa. Daerah ini alamnya sangat indah dan tenang. Hutan di daerah ini di tempati oleh berbagai macam jenis burung. Syeikh Mughniyah yakin bahwa kondisi tempat barunya sangat mendukung dalam proses belajar dan penelitian beliau.
Dengan kondisi lingkungan yang tenang dan ditemani oleh peralatan tulis, buku-buku dan sebuah poci teh, beliau mulai mempelajari karya-karya besar dari orang-orang Eropa yang terkenal, Mazhab Muslim dan beberapa ahli filosof terkemuka antara lain: Friederich Nietzsche, Arthur Schopenhauer, Leo Tolstoy, Mahmud Aqqad, Taha Husayn dan Tawfiq Hakim. Selain itu, beliau juga menulis beberapa buku antara lain: Kumayt wa Di'bil, The present Status of Jabal Amil and Tadhiyyah. Beliau tinggal di daerah ini kurang lebih 10 tahun sampai dengan tahun 1367 H, kemudian beliau memutuskan untuk pindah ke Beirut.
JABATAN PEMERINTAHAN
Setelah Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah tiba di Beirut beliau memperoleh jabatan sosial yang cukup penting dan beliau juga terlibat dalam berbagai aktifitas, saat itu usianya kurang lebih 43 tahun. Beliau ditunjuk sebagai hakim pengadilan muslim Syiah di Beirut. Setahun kemudian, Muhammad Jawad dipilih sebagai penasehat senior pengadilan tinggi Lebanon. Pada tahun 1370 H, beliau kembali ditunjuk untuk menduduki jabatan sebagai ketua pengadilan Syiah di Lebanon. Semasa menjalani tugas kehakimannya, beliau banyak memberikan masukan dan ide-ide pelayanan yang patut diteladani. Selain itu, beliau juga bertanggung jawab membuat berbagai macam hukum. Beliau menjalani jabatan ini sampai tahun 1375 H, setelah itu beliau memutuskan untuk kembali menjadi penasehat hukum. Dan 3 tahun kemudian, beliau meninggalkan jabatannya dan lebih memusatkan perhatian pada penelitian dan penulisan buku.
EKSPEDISI
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad Jawad sangat luas, beliau sangat mengetahui perbedaan antara mazhab Syiah dan mazhab Sunni. Terlepas dari perjalanan studi beliau, Syeikh Muhammad jawad telah mengunjungi banyak negara, meskipun belum dapat diketahui secara terperinci mengenai perjalanan yang telah beliau lakukan.
Pada tahun 1379 H, beliau melakukan perjalanan ke Suriah untuk menemui Syeikh Abu Zahra. Di tahun 1382 H beliau meneruskan perjalanan ke Mesir dan di tahun yang sama beliau juga melakukan perjalanan ke kota suci Mekkah di Saudi Arabia, di tempat ini pula beliau melaksanakan haji. Pada tahun 1385 H, Syeikh Muhammad Jawad meneruskan perjalanan ke Bahrain di mana di tempat ini beliau bertemu dan melakukan diskusi dengan ulama-ulama senior.
Tahun 1390 H, beliau pergi ke Iran untuk melakukan ziarah ke Imam Syiah ke-8 yaitu Imam Ridha as yang terletak di kota Mashad dan kemudian beliau meneruskan perjalanan ke kota suci Qom, Iran. Di tempat ini beliau tinggal selama 2 tahun. Dengan tinggalnya beliau di Iran, Syeikh Mughniyah mengulang kembali perkataan beliau bahwasanya: "Ketika saya hidup di pinggiran kota Kairo, saya mempertimbangkan kemungkinan untuk tinggal di Mesir sampai akhir hidup saya. Tapi akibat terjadinya peperangan antara Mesir-Israel memaksa saya untuk kembali ke negara saya. Ketika di Beirut, saya kehilangan tentang apa yang mesti dilakukan selama sisa hidup saya yang semakin berkurang dari hari ke hari. Ini terjadi pada waktu saya menerima sebuah undangan dari Ayatullah Syariat Madari untuk mengajar di Institut Dar al-Tabligh. Saya melakukan istikharah dan petunjuk yang saya dapatkan mengatakan: "Jika saya sungguh-sungguh berjalan di jalan Allah, maka Allah akan membimbing saya," setibanya saya di Institut Dar al-Tabligh, Qom, Iran, Saya sangat kagum dengan kegiatan akademik yang dilakukan oleh sekolah menengah tingkat atas, mereka melakukan berbagai kajian agama mulai dari pelajaran tafsir, Nahjul Balaghah dan pembahasan mingguan untuk para pemuda."
Selama di Qom, Syeikh Mughniyyah mengajarkan Tafsir al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, dan kemudian beliau kembali ke Beirut pada tahun 1392 H.
AKTIVITAS-AKTIVITAS DALAM RANGKA MENCAPAI PERSATUAN
Sebagian besar perhatian Syeikh Mughniyyah tertuju pada krisis umum yang terjadi semasa beliau aktif di Lembaga Persatuan Umat Islam. Beliau sibuk melakukan kegiatan dan aktivitas untuk mempersatukan kaum muslim dan menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang dari mazhab Sunni.
Pada Tahun 1960, Syeikh Mughniyyah bertemu dengan Syeikh Abu Zahra di Damaskus, Syiria dan di tahun 1970 beliau mengunjungi Dr. Mustafa Mahmud. Syeikh Mughniyah juga bertemu dan berdiskusi dengan Syeikh Tamam dan Syeikh al-Hasari.
Dengan tujuan memperkuat hubungan dan pendekatan antar mazhab-mazhab Islam, beliau melakukan perjalanan ke Mesir di tahun 1382 H. Di tempat ini, beliau bertatap muka dan berbincang-bincang langsung dengan Imam Mesjid al-Azhar. Kemudian beliau juga bertemu dengan ketua al-Azhar, Syeikh Mahmud Shaltut.
Syeikh Mahmud Shaltut adalah salah satu di antara pendiri dari pergerakan pendekatan antar mazhab-mazhab Islam dan memiliki peran di garis terdepan dalam Persatuan dan Solidaritas Antar Muslim. Kecintaan terhadap ulama Syiah menyebabkan Syeikh Shaltut terkenal dengan fatwa beliau atau maklumatnya yang menyatakan bahwa diperbolehkan kepada kalangan mazhab sunni untuk mengikuti Fiqih Syiah Ja'fari.
Hubungan antara Syeikh Muhammad Jawad dan Syeikh Shaltut kembali terjalin pada tahun 1368 H. Mereka saling kirim-mengirim beribu-ribu surat, hal ini menunjukkan bahwa mereka saling berbagi pendapat dalam permasalahan Persatuan Islam. Mereka kembali bertatap muka pada tahun 1382 H, ketika Syeikh Mughniyah mengunjungi Mesir, dimana kemudian terjadi komunikasi dua arah secara ektensif dalam rangka mewujudkan persatuan Islam dan langkah-langkah ataupun solusi demi mencapai hal tersebut. Dalam Peristiwa ini, Syeikh Mughniyah menulis:
"Ketika saya mengunjungi rumah Syeikh Shaltut, beliau menerima kedatangan saya dengan sangat hangat. Ketika berbicara berkenaan dengan permasalahan Islam Syiah, beliau mengatakan: "Syi'h adalah pendiri al-Azhar dalam periode yang pendek, Ilmuwan-ilmuwan Syiah memberikan pengajaran di al-Azhar sampai kemudian kegiatan ini terhenti, karena al-Azhar menolak cahaya-cahaya dan kebaikan ini untuk tetap masuk." Saya katakan kepada Syeikh Shaltut: "Ulama Syiah akan tetap menghargai Anda selama mereka tahu bahwa pelayanan yang Anda lakukan adalah untuk agama, serta keberanian Anda dalam menjelaskan secara rinci tentang konsep keadilan dan kebenaran tanpa rasa takut dengan berbagai celaan dari siapapun." Saya juga mengatakan kepada Syeikh Shaltut: "Syiah percaya dan yakin bahwa setelah Rasulullah Saw wafat, sebenarnya pelanjut kepemimpinan adalah milik khalifah Ali, tapi mereka menahan diri agar tidak terjadi perpecahan yang akan merugikan Islam itu sendiri, sebagaimana Imam Ali pun menahan diri beliau untuk melakukan hal itu." Syeikh Shaltut berdiri dan beliau mengatakan: "Sampai sekarang, kalangan Sunni tidak akan pernah menerima hal ini."
Syeikh Mughniyah berusaha keras untuk mempererat pendekatan antar mazhab-mazhab Islam. Beliau mengambil langkah praktis untuk mencarikan solusi penyelesaiannya, beliau tahu bahwa sebagian besar Ulama Sunni tidak mengetahui tentang kebenaran Islam Syiah dan permusuhan mereka terhadap Syiah disebabkan oleh prasangka dan berita yang tidak benar tentang Islam Syiah, padahal jika ditelaah pada kenyataannya mazhab-mazhab dalam Islam memiliki satu tujuan, yaitu kebaikan dan kedekatan kepada Allah Swt.
Syeikh Mughniyah berusaha menjawab berbagai tuduhan terhadap Islam Syiah, untuk itu beliau membuat dan memperkuat dasar-dasar pendekatan antar mazhab. Dengan buku yang beliau tulis, telah memperjelas bahwa Syiah tidak pantas menerima tuduhan yang telah dilimpahkan terhadap mereka. Beliau adalah orang pertama yang membantah tulisan Muhibb al-Din al-Khatib yang berjudul al-Khutut al-Aridah, buku pertama yang menentang Syiah dan diterbitkan di Mesir. Syeikh Mughniyah banyak mendapatkan ancaman dan kecaman dari tulisan beliau yang menentang buku tersebut.
PANDANGAN TERHADAP ZIONISME DAN IMPERIALISME AMERIKA SERIKAT
Melalui buku-buku dan pidato yang beliau sampaikan, Syeikh Mughniyah banyak menentang orang-orang Zionis. Dari pemahaman yang beliau miliki tentang al-Quran dan hadist Rasulullah Saw, beliau sangat paham tentang kejahatan yang dimiliki oleh rezim Zionis. Dalam buku beliau yang membahas tentang "Imperialisme dan Kecongkakan Dunia", beliau mengutuk perbuatan Amerika yang mendukung Rezim Israel.
Syeikh Mughniyah dengan pengetahuan yang beliau miliki pernah mengeluarkan pernyataan tentang sifat asli dari Zionis : "Umumnya mereka adalah orang-orang yang memiliki ideologi dimana mereka sangat membenci suku bangsa lain, dan menganggap bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan." Dari anggapan mereka tersebut mereka merasa bahwa apapun yang mereka lakukan adalah benar dan berusaha merampas ataupun merebut apapun yang mereka inginkan, baik itu di Timur maupun di Barat.
Dalam buku orang Yahudi yaitu Talmud, dituliskan: "Kami adalah bangsa pilihan Tuhan dan kami membutuhkan dua hal dari binatang, hal pertama adalah kebuasan dan kejahanaman binatang keempat kaki mereka dan burung-burung, sedangkan yang kedua adalah manusia binatang yaitu bangsa-bangsa lain yang berada di Timur dan Barat."
Dalam artikel yang lain, Syeikh Mughniyah menyebutkan kelompok Muslim terbesar yang memiliki sumber yang sangat penting bagi dunia yaitu minyak. Beliau mengkritik mereka yang membiarkan perilaku Rezim Israel. Beliau juga sangat mengkritik keras perkataan yang di keluarkan oleh Pimpinan Arab bahwa Arab memberikan bantuan terhadap Rezim Israel dikarenakan rasa malu dan ejekkan yang dilontarkan kepada umat Islam.
Tulisan Syeikh Mughniyah menjadi perhatian para pejabat tinggi Amerika di Beirut. Mereka meminta beliau untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Presiden Amerika pada saat itu "Roosevelt". Beliau memberikan balasan dengan mengeluarkan pernyataan bahwa: "Amerika adalah musuh bagi Islam dan bangsa Arab. Amerika-lah yang telah membawa Rezim Israel untuk eksis sehingga tangan busuk mereka menodai darah bangsa Palestina. Saudara-saudara kita terbunuh oleh senjata-senjata Israel yang di dapatkan dari Amerika, dengan hal yang sudah kalian lakukan ini, kemudian kalian ingin mengundang saya ke armada keenam kalian?"
Darah, keberanian dan kehormatan beliau mengalir deras saat berdiskusi dengan orang-orang dari berbagai tingkatan ini, bahkan Majalah Muharrir menulis aksi yang beliau lakukan dalam sebuah artikel yang berjudul, "This is a dear Arab" (Inilah Seorang Arab Terhormat).
HASIL KARYA SYEIKH MUHAMMAD JAWAD MUGHNIYYAH
Sampai akhir hidupnya, Syeikh Muhammad Jawad Mughniyyah telah menulis lebih dari 60 buah buku di berbagai bidang keilmuan. Beliau juga menulis di beberapa majalah dan koran. Buku-buku hasil tulisan beliau digunakan oleh beberapa universitas baik di dalam maupun di luar negeri-negeri Muslim. Beberapa buku yang beliau tulis antara lain:
1. "Nabi-Nabi Menurut Perspektif Intelektual"
2. "Al-Quran dan Ali bin Abi Thalib as"
3. "Pendekatan Terbaru Dalam Islam"
4. "Syiah dan Timbangan"
5. "Fikih Menurut Lima Mazhab"
6. "Fikih Imam Jafar Shadiq"
7. "Filosofi Tentang Asal Mula dan Akhir Dunia"
8. "Al-Quran dan Imam Husein"
9. "Bersama Pahlawan Karbala, Zaenab"
10. "Tafsir al-Kashif"
11. "Penjelasan Nahj al-Balaghah"
12. "Penjelasan Syahifah al-Sajjadiyyah"
WAFATNYA SANG AHLI HUKUM KONTEMPORER
Allamah Muhamad Jawad Mughniyah meninggal dunia pada tanggal 19 Muharram, 1400 H. Setelah 76 tahun berjuang untuk kemajuan Islam dan usaha yang tiada akhirnya untuk mendekatkan lima mazhab Islam. Dua tahun sebelum kewafatannya, beliau diagnosa mengidap penyakit hati ringan. Beliau dimakamkan di kota Najaf, pemakaman beliau dihadiri oleh banyak ulama dan pengikut dari berbagai kalangan sosial. Semua pusat perdagangan di Najaf ditutup pada saat pemakaman beliau. Shalat jenazah beliau dishalatkan oleh Ayatullah Khu'i dan kemudian jenazahnya dikebumikan di sebuah tempat suci berdekatan dengan makam suci Imam Ali as. Semoga Allah memberkati arwah beliau dan catatan sejarah yang beliau toreskan akan selalu diingat oleh kita.
Sumber : IRIB

2 komentar:

  1. kapan si jawa mugniyah berjumpa dengan imam jakfar.. sehingga mengatakan fikih karangannya adalah fikih jakfari, murid-murid imam jakfar yang terkenal malah jadi marja' sunni. saya tidak pernah mendapat referensi si jawad dapat ilmunya dari imam jakfar.. hendaknya fikih tersebut dikasih nama fiki8h jawadiy,bukan fikih jakfary.. imam jakfar suci atas segala fitnah yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pengikut beliau yang selalu menjual nama beliau

    BalasHapus
    Balasan
    1. penisbatan tentu berantai. ketika seseorang tak bertemu langsung dengan sumbernya, bukan berarti ia tak dianggap sebagai pengikutnya. bukan begitu ?

      Hapus