Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Senin, 04 Maret 2013

Khalifah Makmun, Seekor Elang, dan Imam Jawad Kecil



Suatu hari Makmun keluar dari istananya untuk berburu. Di jalan ia berpapasan dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain, di antaranya ada Imam Muhammad Jawad as. Ketika melihat rombongan khalifah, mereka lari ketakutan. Hanya Imam Jawad as yang bergeming. Khalifah Makmun menghampiri Imam dan bertanya, “mengapa kamu tidak ikut lari seperti yang lain? Imam menjawab, “aku tidak berbuat salah jadi mengapa aku harus lari? Apalagi jalannya cukup luas sehingga aku tidak perlu ke pinggir. Toh, tidak mengganggu perjalananmu, engkau dapat leluasa.”
 Makmun bertanya, “Wahai bocah! Siapa engkau?”
“Aku Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib!” jawab Imam.
“Ilmu pengetahuan apa yang telah kau warisi?” tanya Makmun.
Imam menjawab, “engkau dapat menanyakan berita langit dan bumi kepadaku!”
Makmun pergi meninggalkan imam jawad dan melanjutkan perjalanannya. Seekor elang putih berada di atas tangan khalifah digunakan untuk berburu. Lalu Makmun melepaskan elang itu untuk mencari buruan. Untuk sekian saat, elang itu hilang dari pandangan dan tak lama kemudian, elang tersebut kembali dengan membawa ular hidup. Makmun menyimpan ular itu di suatu tempat. Lalu dia berkata pada para pengawalnya, “kini kebinasaan anak itu akan jatuh di tanganku!”
Kemudian makmun kembali melalui jalan yang tadi dilewatinya. Di tempat itu ia melihat Imam Jawad as sedang berada di antara anak-anak. Imam dipanggil dan ditanya, “engkau katanya tahu berita langit dan bumi?”
Imam berkata:
“Aku mendengar dari ayahku dan kakek-kakekku mendengar dari Rasul, dan Rasul dari Jibril, dan dari Tuhan, bersabda, ‘antara langit dan bumi terdapat laut berombak besar yang di dalam laut itu terdapat ular. Perutnya berwarna hijau dan kulitnya memiliki titik-titik hitam. Para raja memburu ular itu dengan elang putih mereka untuk menguji para ulama dengan itu. ’ ”
Mendengar jawaban itu, Makmun berkata, “engkau dan ayah-ayah serta kakekmu dan Tuhanmu semua benar.”
Disadur dari buku ‘WARISAN HIKMAH BIHARUL ANWAR Kisah-Kisah Sufistik’, Hawra Publishers, dengan sedikit perubahan kata.
Farazdaq Khaza’i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar