Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Sabtu, 22 Desember 2012

Juwaibar dan Dzulfa


الحب
Seorang laki-laki dari penduduk Yamamah datang ke Madinah dan memeluk islam. Keislamannya pun bagus. Maksudnya, dia mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan juga terdidik dengan pendidikan islam. Nama laki-laki ini adalah Juwaibar. Juwaibar adalah seorang laki-laki yang bertubuh pendek, buruk rupa, berkulit hitam, dan miskin. Oleh karena dia tidak mempunyai seorang kerabat pun di Madinah, maka pada malam hari dia tidur di masjid.

Juwaibar adalah salah satu ahlusshuffah. Rasulullah saw, dan juga kaum muslim lainnya amat mencintai mereka dan memperhatikan kehidupan mereka. Suatu hari Rasulullah saw berkata pada Juwaibar, “Juwaibar! Alangkah bagusnya sekiranya engkau menikahi seorang wanita. Dengan begitu, di samping kebutuhan biologismu terpenuhi, istrimu juga akan membantu di dalam pekerjaan dunia dan akhiratmu.” Juwaibar menjawab, “ya Rasulullah, tidak ada seorang wanita pun yang ingin menjadi istri saya. Saya tidak punya harta dan tidak tampan. Wanita mana yang mau jadi istri saya.” Mendengar itu Rasulullah saw berkata pada Juwaibar, “Juwaibar, dengan perantaraan islam, Allah telah merendahkan orang-orang yang ditinggikan pada masa jahiliyyah dan telah meninggikan orang yang direndahkan pada masa jahiliyah, dan islam telah memuliakan orang-orang yang hina pada masa jahiliyah.”
Rasulullah saw melanjutkan kata-katanya kepada Juwaibar, “pada hari ini, seluruh manusia, baik yang puith maupun hitam, baik orang Quraisy, orang Arab dan ‘ajam (non-arab), semuanya berasal dari Adam, dan sesungguhnya Allah swt telah menciptakan Adam dari tanah. Wahai Juwaibar, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling taat dan tunduk terhadap perintah-Nya. Tidak ada seorang muslim pun, baik dari kaum Anshar maupun Muhajir, yang berada di rumah mereka masing-masing, yang memiliki kelebihan atasmu kecuali berdasarkan ukuran takwa.”
Lalu, Rasulullah saw melanjutkan perkataannya, “coba engkau pergi ke rumah Ziyad bin Labid al-Anshari. Katakan padanya bahwa Rasulullah saw mengutus kamu kepadanya untuk meminang putrinya yang bernama Dzulfa untukmu.”
Sesuai dengan perintah Rasul, Juwaibar pun pergi ke rumah Ziyad bin Labid. Ziyad adalah orang yang paling terhormat di kalangan Anshar dan penduduk Madinah. Ketika Juwaibar masuk ke rumah Ziyad, pada saat itu sekelompok kaum Ziyad sedang berada di rumahnya. Setelah meminta izin, Juwaibar masuk dan duduk. Dia lalu menatap Ziyad bin Labid dan berkata, “saya membawa pesan dari Rasulullah saw. Apakah saya harus menyampaikannya secara tertutup atau terbuka?” Ziyad menjawab, “pesan Rasul merupakan kebanggaan bagi saya, tentu saja sampaikan secara terbuka.” Juwaibar pun berkata, “Rasulullah mengutusku untuk meminang putri Anda, Dzulfa, untuk saya. Sekarang, bagaimana menurut Anda? Katakanlah, supaya saya dapat menyampaikan jawaban Anda kepada Rasulullah saw.” Dengan penuh keheranan Ziyad bertanya, “benarkah Rasulullah mengutus kamu untuk meminang?”
“Benar, Rasul telah mengutus saya. Saya tidak berdusta atas nama Rasul.”
“Tapi, bukan adat kami memberikan putri kami kepada orang yang bukan dari kalangan kami, kaum Anshar. Sekarang, silahkan Anda pergi kepada Rasulullah. Biar saya sendiri yang kan menemui beliau.”
                Juwaibar pun keluar dari rumah Ziyad bin Labid. Ia bingung. Ia memikirkan perkataan Rasulullah dan Ziyad. Ia berkata pada dirinya sendiri, “kata-kata orang ini bertentangan dengan apa-apa yang diajarkan oleh al-Qur’an.” Ia melanjutkan, “demi Allah, ajaran yang diturunkan di dalam al-Qur’an bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh laki-laki ini, dan Rasulullah saw juga tidak diutus untuk ucapan seperti ini.”
                Ucapan Juwaibar ini ternyata didengar oleh Dzulfa. Dia lantas menanyakan kejadiannya kepada ayahnya. Ziyad bin Labid pun menceritakan kejadiannya kepada putrinya itu. Dzulfa berkata, “demi Allah, Juwaibar tidak berdusta. Lakukanlah sesuatu sehingga jangan sampai Juwaibar kembali ke hadapan Rasulullah saw dengan putus asa karena jawaban tadi. Suruh Juwaibar balik lagi.”
                Ziyad bin Labid pun memanggil kembali Juwaibar ke rumahnya. Dia sendiri yang pergi menemui Rasulullah saw. Dia berkata, “wahai Rasulullah, Juwaibar membawa pesan dari engkau seperti ini kepada saya, namun kami tidak mempunyai adat untuk memberikan putri kami kepada orang yang tidak sederajat dengam kami.” Rasul saw pun berkata, “wahai Ziyad, Juwaibar adalah seorang mukmin, dan seorang mukmin laki-laki sederajat dengan seorang mukmin perempuan; demikian juga seorang muslim laki-laki sederajat dengan muslim perempuan.[i] Oleh karena itu, janganlah engkau menghalangi pernikahan putrimu hanya karena alasan-alasan yang tidak berdasar ini.”
                Alhasil, Ziyad bin Labid pun akhirnya menikahkan putrinya dengan Juwaibar, lelaki berkulit hitam itu. Dia membangunkah rumah untuk Juwaibar, lengkap dengan alat-alat rumah tangga. Dia juga memberi Juwaibar dua stel pakaian. Ketika juwaibar memasuki kamar pengantin yang dihias sedemikian rupa, dalam jiwanya muncul perasaan ridha dan syukur kepada Allah swt yang dengan perantaraan islam telah memuliakan dirinya sedemikian rupa. Dia sangat bersyukur pada Allah. Sehingga dia duduk di salah satu sudut rumahnya dan sibuk melakukan ibadah hingga waktu subuh. Siangnya pun dia berpuasa. Demikianlah yang dilakukannya selama tiga hari tiga malam.
                Lambat laun, keluarga mempelai wanita merasa ragu, jangan-jangan Juwaibar adalah seorang lelaki yang tidak butuh pada wanita. Keluarga mempelai wanita menceritakan hal ini kepada Rasulullah saw. Rasul memanggil Juwaibar dan menanyakan hal itu. Juwaibar menjawab, “ya Rasulullah, ketika saya memasuki rumah yangluas itu, dengan permadani yang terhampar di lantainya, serta segala perkakasnya, sementara di hadapan saya berdiri seorang wanita cantik, dan saya mengetahui bahwa semua itu milik saya, maka saya berpikir betapa dengan perantaraan islam, Allah telah memuliakan saya, seorang manusia yang asing dan miskin di kota ini. Karena itu saya pun berkeinginan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat ini dengan melakukan ibadah hingga waktu subuh. Keesokan harinya, dengan maksud bersyukur saya berpuasa. Demikianlah hal itu saya lakukan selama tiga hari berturut-turut. Namun, untuk selanjutnya saya tentu akan berada di sisi keluarga saya.”
(Dikutip dari buku Ceramah Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Murtadha Mutahhari, penerbit Lentera, hal. 151-157, dengan perubahan seperlunya.)


[i] Al-Kafi, jilid 5, hal. 340-341

Tidak ada komentar:

Posting Komentar