Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Selasa, 18 Desember 2012

Suraya: Bila Harus Percaya Mayoritas, Saya Tidak Perlu Pindah Agama dan Memeluk Syiah

Suraya
Nama saya Suraya. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Australia. Kini saya sedang belajar di Iran. Saya yakin bahwa Allah ada dalam semua jiwa kita. Keberadaan ini merupakan suatu hal yang fitrah. Tidak peduli apakah sebagian dari manusia memilih dan mengakui serta berserah diri kepada Yang Maha Kuasa,  sementara yang lain tidak peduli dengan-Nya dan melewati kehidupan menurut keinginan dan kehendaknya sendiri.

Sebagai seorang anak, saya merasakan keberadaan Tuhan dalam hati saya dan keinginan untuk berserah diri Sekalipun demikian saya tidak tahu jalan yang dapat mengantarkan saya ke pada tujuan itu. Saya sering merenung dari mana saya datang, mengapa saya di sini dan kemana saya akan pergi?

Saya besar di Australia dan hidup dalam sebuah lingkungan Kristen Katolik. Kondisi ini tidak memperbolehkan saya untuk melakukan penelitian berkaitan keimanan. Artinya, saya harus mengikuti ibu bapa saya dan mengikuti agama mereka secara membabi buta.

Banyak sekali konsep seperti doktrin Trinitas, di mana Tuhan wujud dalam tiga bagian termasuk Nabi Isa as sebagai anak Tuhan dan menyembah berhala, merupakan sebagian kepercayaan Kristen yang menjadi pertanyaan buat saya sejak berusia muda.

Saya benar-benar tidak puas hati dengan jawaban yang tidak masuk akal dan malah hal ini membuat saya menjadi nakal dan dikenakan hukuman oleh Sekolah Biarawati Kristen karena sikap jujur dan ingin tahu saya.

Ketika saya berusia 13 tahun, biarawati bertanya dengan murid-murid, siapa yang tidak menyukai Injil? Hanya saya yang menjawab pertanyaan tersebut, saya katakan, "Injil telah disimpangkan oleh tangan manusia, ia memuat pornografi, dan saya yakin bahwa ia bukanlah kata-kata Tuhan yang benar." Mendengar itu, saya diusir keluar dari kelas.

Pada usia remaja, saya meninggalkan Kristen untuk selamanya, lelah dengan sistem agama Barat.

Apa yang saya impikan ialah sekelompok manusia dari berbagai warga berbalut kain putih, berjalan secara sistematis di sebuah tempat dengan tiang-tiang yang besar. Saya hubungkan dengan Ghandi; ketika berusia lebih dewasa saya mula belajar berkaitan agama-agama Timur. Pencarian saya cenderung ke arah Buddhisme.

Waktu ini ibu saya sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Mesir, mengisi impiannya. Saya sering mengejek keinginan ibu untuk ke Mesir. Bagaimanapun, itulah yang direncanakan oleh Allah.

Ibu saya melakukan kunjungannya ke Mesir pada tahun 1997. Tidak lama selepas itu, saya ke Eropa untuk mengunjungi sanak saudara saya. Walaupun saya tidak berminat untuk mengunjungi Mesir, saya berencana untuk tinggal di Mesir selama lima hari untuk menemui ibu saya.

Saya menggunakan pesawat Gulf Airlines. Di dalam pesawat saya menggunakan headset untuk mendengar musik; saya berhenti saat mendengar suara indah yang menusuk ke dalam kalbu saya, walaupun saya tidak memahami maksudnya.

Setelah tiba di Mesir, saya tinggal lebih lama dari yang telah saya rencanakan. Malah, setiap kali saya berkeinginan untuk meninggalkan negara ini, ada saja yang menghalang kepergian saya.

Saya berjalan ke semua tempat, saya diberitahu banyak kali mengenai sebuah masjid milik Ahlul Bait di Kairo. Ketika saya ke tempat tersebut, impian saya bakal terpenuhi. Saya tidak tahu langsung apa saja tentang Ahlul Bait, tetapi orang-orang di sana begitu menyayangi mereka sehingga membuat saya turut terilhami. Sisa-sisa kekalifahan Fatimiyah yang menyintai Ahlul Bait masih terdapat di kalangan orang-orang Mesir hari ini.

Akhirnya saya pergi ke Masjid dengan penuh harapan. Saat memegang zarih masjid, saya dengan jujur meminta kepada Tuhan supaya membimbing saya ke jalan yang benar dan mengakhiri pencarian saya serta mengubah kehidupan saya yang kosong di Australia.

Karena besar di barat, saya sering diberi gambaran negatif berkaitan Islam dan umat Islam. Bagaimanapun ketika saya di Mesir, saya melihat nilai-nilai kekeluargaan yang kuat, menghormati orang tua, dan semangat dermawan yang besar. Rakyat hidup dalam kemiskinan, tetapi mereka rela dan puas hati. Mereka mengetahui tujuan hidup ini. Saya tidak melihat sama sekali kecenderungan ke arah materialisme dan tidak bimbang akan masa depan. Saya membuat kesimpulan bahwa semuanya ini adalah dari asas agama yang mereka miliki.

Ini menyebabkan saya mulai melakukan kajian tentang Islam. Semakin banyak yang saya ketahui, semakin saya tertarik padanya. Saya dapati Islam merupakan agama yang sempurna, menyelubungi semua aspek kehidupan, dari kesehatan hingga keberhsihan, dari sains sehinggalah nilai-nilai moral, dan masalah dunia yang tak terlihat.

Satu hari saat saya sedang berjalan, saya mendengar musik indah seperti yang saya dengar dalam pesawat. Musik itu datang dari warung kopi. Saya diberitahu bahwa itulah bacaan al-Quran.

Akhirnya saya diberikan sebuah al-Quran berbahasa Inggris. Ketika membukanya, saya tersadar bahwa pencarian saya selama ini telah sampai ke penghujungnya. Saat saya mula membacanya, ia seolah-olah turun dari langit terus ke tangan saya. Kata-katanya begitu indah, terus kepada poin. Saya merasakan bahwa untuk pertama kalinya Tuhan berkata-kata dengan saya. Ini merupakan kata-kata Tuhan yang jelas, dan bukan kata-kata dari fikiran manusia.

Banyak sekali ayat yang memperlihatkan transparansinya seperti surah at-Tauhid. Dan secara instan menakhiri segala kekacauan seumur hidup.

Pagi itu juga saya memeluk agama Islam. Allah Swt telah mengutuskan banyak rasul dan nabi seperti Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Isa dan Nabi Muhammad Saw, untuk membimbing umat lewat berbagai generasi, masyarakat, dan budaya. Islam merupakan rangkaian pesanan terakhir dan Nabi Muhammad merupakan penutup para Rasul yang diutus Allah Swt.

Sekalipun, pencarian saya tidak berakhir di sini… Saya kembali ke Australia dan setelah 6 tahun menganut Islam, saya bertemu dengan beberapa orang penganut Syiah. Saya amat terperanjat dengan perbedaan yang terdapat di antara Sunni dan Syiah.

Tiba-tiba saya menyadari betapa pentingnya memilih mazhab untuk dianut. Haus akan kebenaran, membuah saya melakukan kajian selama selama setahun. Saya berdoa sebanyak-banyaknya dan meminta Allah membimbing saya serta tidak meninggalkan saya dalam keadaan kesulitan.

Pada awalnya saya menemui banyak sekali pandangan negatif dan bodoh yang diarahkan terhadap syiah. Bagaimanapun, secara berangsur-angsur saya mulai cenderung dengan ide-ide Syiah. Bukan sekedar bukti, tetapi juga dasar yang logis.

Banyak teman Sunni yang memberi nasihat agar saya lebih baik bersama dengan mayoritas umat Islam dan akan selamat. Jika mengikuti peraturan ini, sudah tentu saya masih saja mengikuti agama nenek moyang saya.

Sayangnya, saya mendapati bahwa perpecahan agama suci ini hanya berlaku selepas wafatnya Rasulullah Saw.

Saya pun mulai mencari sumber-sumber Sunni guna mendapatkan bukti lebih banyak. Saya menemui lebih dari 140 hadis Sunni yang mendukung peristiwa Ghadir. Malah Umar sendiri turut mengucapkan selamat ketika Imam Ali dilantik. Logika menyebutkan tidak mungkin Rasulullah Saw menghentikan sekelompok besar jemaah haji di tengah sinar mentari panas dan padang pasir yang membakar tanpa sesuatu yang penting. Terdapat ayat-ayat al-Quran yang memberikan kesaksian akan pentingnya deklarasi yang dibuat pada hari tersebut. Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan misi agama Islam.

Lagi pula, mengapa Allah meninggalkan hal penting kepemimpinan tanpa diputuskan? Kepemimpinan bukanlah satu hal yang diputuskan oleh manusia. Sejak dari zaman Nabi Adam as, ia senantiasa menjadi pilihan langit.

Berbagai statemen yang dibuat oleh Rasulullah pada masa hidupnya menkonfirmasikan posisi Imam Ali as, "Ali adalah seperti Harun kepada Musa, kecuali tidak ada Nabi selepas ku", "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya". Saat khalifah-khalifah lain sedang memerintah, jika tidak karena pintu ilmu ini, sudah tentu kita akan binasa, kata-kata yang dilahirkan dari Umar sendiri.

Yang paling penting, saya menemui sifat Imam Ali bersinar saat membaca Nahjul Balaghah. Seseorang yang membaca karya sastera ini sudah cukup untuk menyakinkan saya siapa yang lebih layak dan berupaya menjadi pemimpin.

Fondasi empat mazhab sunni juga ditegakkan lewat Ahlul Bait. Karena para Imam Sunni adalah murid Imam Jakfar al-Sadiq as.

Sebenarnya bukti masih banyak, hanya masa tidak mengizinkan saya untuk memaparkan kesemuanya.

Saya mempelajari mazhab Syiah di Pusat Islam Imam Husein Sydney Australia. Ketika saya memasuki pusat ini, saya merasakan energi spiritual yang kuat, hubungan yang kuat antara jiwa dan Allah. Terutama ketika mendengarkan lantunan doa-doa seperti doa Kumail.

Pada masa inilah saya dapati bahwa konsep tawasul dan tokoh besar Imam Husein as (yang telah disimpan dalam gelap selama bertahun-tahun oleh Sunni) termasuk pengorbanan besarnya terhadap Islam. Saya menyadari bahwa Imam Husein as merupakan bahtera keselamatan saya, doa yang selama ini saya panjatkan kepada Allah saat berada di Masjid Kairo (Masjid Husein) saat pertama saya memohon bimbingan dan sampai detik ini, Allah membimbing saya.

Saya membuat kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain selain memeluk mazhab ini sebagai bimbingan spiritual saya; seterusnya saya merasakan untuk pertama kali bahwa keyakinan saya telah sempurna.

Sejak itu, beberapa kali saya melakukan kunjungan ke Iran dan Irak setiap tahun untuk melakukan ziarah atau ikut berpartisipasi dalam konferensi. Saya mendapati bahwa setiap tahun saya meninggalkan Australia untuk menghidupkan semula jiwa saya. Setiap tahun saya ketagihan dengan injeksi spiritual tahunan ini.

Ini jugalah yang menyebabkan saya meninggalkan kehidupan ala Barat berubah kepada kehidupan yang lebih islami, sederhana dan kurang materialistik. Kehausan terhadap agama dan pemahaman yang lebih jauh, menyebabkan saya belajar bahasa Persia. Untuk masa depan, saya berserah kepada apa yang telah diatur Allah Swt.
Sumber: ABNA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar