Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
Tampilkan postingan dengan label sahabat maksumin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat maksumin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

147 Petuah Rasulullah saw Kepada Abu Dzar

            Syekh Thusi dalam kitab Amali jilid kedua cetakan Najaf, halaman 138-152, Syekh Thabarsi dalam kitab Makarim al-akhlaq, cetakan Beirut halaman 455-471, bab 12 pasal 5, Waram bin Faras dalam kitab Majmu’ah Waram, cetakan Qum, Iran tahun 1375, halaman 273-284, dan Majlisi dalam kitab Bihar al-anwar cetakan Iran, jilid 77 halaman 74-91, bab 4 hadits ke 63 dan dalam kitan ‘Ain al-hayat, semuanya dari awal sampai akhir adalah berisi syarh hadits Abu Dzar. Semua ulama besar ini dalam kitab mereka secara bersanad dan dalam Majmu’ah waram secara mursal meriwayatkan dari Abu Dzar Ghifari ra. Abu Dzar mengatakan, “di suatu pagi saya masuk ke masjid, ketika itu saya melihat tidak ada orang selain Rasulullah saw dan Imam Ali bin Abi Thalib. Suasana tidak ramai itu saya manfaatkan untuk bertanya. Saya menyatakan, ‘ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah, berilah saya nasihat sehingga Allah memberikan manfaat kepadaku berkat nasihat itu.’” Lalu Rasulullah saw berkata, ‘aku akan memberi nasihat kepadamu, engkau ini sangat mulia dan mendapat tempat di sisi kami. Wahai Abu Dzar, engkau adalah bagian dari Ahlulbayt kami, sesungguhnya aku akan memberikan nasihat-nasihat yang agung kepadamu, maka engkau, dalam pikiran dan amal, jagalah, karena itu menghimpun  seluruh kebaikan. Kalau engkau menjaganya dan melaksanakannya, maka engkau akan mendapatkan keuntungan yang besar, rahmat ilahi, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.’ “
Petuah 1
Wahai Abu Dzar, sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya, Dia melihatmu.

Sabtu, 11 Februari 2012

Masa Depan Agama dan Negara Di Tangan Pemuda


Jangan Remehkan Pemuda
                Rasulullah saww bersabda, “aku berpesan kepada kalian agar memperlakukan anak-anak muda dengan baik, karena hati mereka sangat lembut. Sesungguhnya, Allah mengutusku sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan sehingga anak-anak muda menyambutku, sedangkan orang-orang tua menentangku. Kemudian beliau membaca ayat, ‘kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.(al-hadid : 16)’ ” (Syabab Quraisy, hal 1)

Kamis, 12 Januari 2012

Imam Ali as di Mata Sahabatnya, ‘Adhi bin Hatim ra

 ‘Adhi bin Hatim adalah salah seorang sahabat dan pecinta Imam Ali bin Abi Thalib as. Laki-laki ini masuk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah saw, dan dia masuk Islam dengan sesungguhnya. Pada masa kekhalifahan Imam Ali as dia berada di pihak Imam Ali as. Bahkan ketiga anak laki-lakinya, yaitu Tharif, tharaf, dan thaarif, syahid dalam perang Siffin membela Imam Ali as. Setelah syahidnya Imam Ali as dan jatuhnya kekhalifahan ke tangan Muawiyah, secara kebetulan ‘Adhi bin Hatim bertemu dengan Muawiyah.
Muawiyah berharap dengan  mengingatkan ‘Adhi bin Hatim tentang musibah kematian ketiga anak laki-lakinya, maka ‘Adhi bin Hatim akan berbicara mengenai Imam Ali as sesuai seleranya. Muawiyah bertanya kepada dia, ‘bagaimana ketiga anak laki-lakimu: Tharif, tharaf, dan thaarif?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘ketiganya telah syahid dalam perang Siffin di haribaan Ali.’ ‘Adhi bin Hatim sengaja menambahkan kata-kata ‘di haribaan Ali’ dengan maksud untuk menunjukkan kerelaan dan kebanggaan akan kesyahidan tiga orang putranya itu. Muawiyah berkata lebih lanjut, ‘Ali telah berlaku tidak adil terhadapmu, sementara dia mengirimkan anak-anakmu ke medan perang sehingga terbunuh dia malah menempatkan anak-anaknya di belakang medan pertempuran supaya tetap hidup.’ Mendengar kata-kata Muawiyah itu ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘justru sebaliknya saya telah berlaku  tidak adil terhadap Ali, karena saya membiarkannya terbunuh sementara saya masih hidup.’
                Muawiyah melihat dia tidak memperoleh hasil dari rencananya itu, lalu dia mengubah pembicaraannya. Muawiyah berkata kepadanya, ‘gambarkanlah tentang Ali kepadaku.’ ‘Adhi bin Hatim berkata, ‘saya tidak mampu.’ Muawiyah mendesak, ‘tidak mungkin itu.’
                Mendengar itu ‘Adhi bin Hatim pun berkata, ‘kalau sekiranya memang demikian, maka demi Allah, Ali adalah orang yang memiliki wawasan yang jauh, sangat kuat, bicara jelas, memutuskan perkara secara adil, ilmu memancar dari seluruh aspek kehidupannya, yang dari celah-celahnya meluncurlah hkimah. Dia orang yang sangat tidak menyukai kesenangan hidup dunia dan akrab dengan kegelapan malam. Ali adalah orang yang selalu banjir airmata, banyak berpikir, telapak tangannya selalu terbuka, tak pernah berhenti mengajak berdialog dirinya sendiri, berpakaian dan makan secara sangat sederhana.’
‘Demi Allah, dia tidak berbeda dengan kami. Selalu memberi ketika kami minta, menyambut bila kami datangi, dan selalu memenuhi undangan kami. Kami, demi Allah, betul-betul dekat dengannya. Kendati kami begitu dekat, namun kami tidak pernah berani berlagak sombong di hadapannya karena keagungannya. Dan bila dia tersenyum, ah, senyumannya sungguh gemerlap laksana mutiara.’
‘Dia adalah orang yang menghormati para ahli agama, mencintai orang-orang miskin. Orang-orang yang kuat tidak bisa mengharapkan kebatilannya, dan orang-orang yang lemah tidak pernah putus harapan dari keadilannya.’
‘Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku pernah menyaksikan apa yang dilakukannya di suatu malam yang gelap gulita dengan bintang-bintang yang sedang berkedip. Bibirnya bergetar mengucapkan kepasrahannya kepada Allah dan menangis demikian pilu. Masih segar dalam ingatanku, bahwa saat itu dia berkata, ‘wahai dunia, rayulah orang selainku. Aku menolak kedatanganmu dan tak mungkin menyambut bujukanmu. Pergilah, pergilah dari sisiku. Aku telah mentalakmu tiga kali, dan tidak mungkin aku merujukmu.  Umurmu pendek, kehidupanmu hina, sedang bahayamu sangatlah besar. Alangkah murahnya harga dirimu sebagai bekal, sedangkan jarak yang mesti kutempuh sangat panjang dan berat. ’ ’ (Safinah al-bihar, jil.2, hal. 170)
Ketika perkataan ‘Adhi bin Hatim sampai di sini, mulailah airmata Muawiyah berjatuhan, lalu Muawiyah pun mengambil sapu tangannya dan mengusapkannya ke kedua matanya. Ketika itu Muawiyah berkata, ‘semoga Allah swt merahmati Ali, sungguh benar apa yang kamu katakan. Sekarang, katakan bagaimana perasaanmu setelah berpisah dengan Ali ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘keadaanku tidak ubahnya seperti seorang ibu yang anaknya disembelih di pangkuannya.’ Muawiyah bertanya kembali, ‘tidak bisakah engkau melupakannya untuk sejenak ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘bagaimana mungkin kami bisa melupakannya!’
(Dikutip dari buku ceramah-ceramah seputar persoalan penting agama dan kehidupan, Murtadha Muthahhari, hal. 95-97, buku kedua)

Jumat, 03 Juni 2011

Kisah Salman al-Farisi Mencari Kebenaran

Kisah Salman diceritakan langsung kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas:
Salman dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah  orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar. Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.
Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.
"Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku
membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan." "Ketika saya melihat mereka, saya menyukai salat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), 'Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami'".
Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. "Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku."
Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: "Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik."
"Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita," tegas Salman.
Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya.
Salman tak kehabisan akan dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah.
Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: "Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan salat dengan anda."
Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.
Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untukmenguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.
Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya.
Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.
Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu
mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.
Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau.
Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai
saudara.
Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah karena idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang
Khandaq. Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel.
Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.
Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh
bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.
Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin.
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.