Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2013

Khulasoh Ta’lim Ustadz Miqdad Turkan: Tirulah Ali, Makmurkan Bumi Ini!


Ustadz Miqdad Turkan
Ta’lim dilaksanakan untuk memperingati milad imam Ali bin Abi Thalib as, di masjid Imam Mahdi afs, Jum’at (25/05). Berikut poin-poin pentingnya:
                ~. Untuk mengetahui sejarah para imam, kita bisa membaca buku-buku sejarah. Namun, untuk memahami perilaku para imam, perlu penjelasan dan perenungan yang tinggi.
                ~. Siapapun yang mempelajari sejarah imam Ali as dari segala sisinya, akan menginspirasikan perubahan dalam dirinya.
                ~. Salah seorang sahabat imam Ali yang bernama Isbath bin Nubatah mengisah: Selepas menemani Imam sepanjang hari, ia pulang bersama Imam ke rumah. Karena lelah, Isbath langsung berbaring di depan rumah Imam. Belum juga tertidur, Isbath melihat Imam sudah terjaga kembali dan hendak keluar. “Apa yang Anda inginkan, Imam?” Isbath bertanya. Jawaban Imam membuatnya terkejut, “aku ingin salat beberapa rakaat untuk Tuhanku.” “Tidakkah engkau ingin beristirahat sedikit, tuanku?” Imam menjawab, “bagaimana mungkin aku bisa tidur? Jika aku tidur di siang hari, aku telah menyia-nyiakan kesadaranku. Dan jika aku tidur di malam hari, maka aku telah menyia-nyiakan diriku (di hadapan Tuhanku.)”
                ~. Kisah ini mengajarkan bahwa

Kamis, 09 Mei 2013

Yang Terjadi di Bulan Rajab; dari Kelahiran Imam Baqir Hingga Hari Mab’ats




Rajab, Bulannya Allah Ta'ala
Rasulullah saw pernah bersabda, “bulan Rajab adalah bulan Allah yang besar dan bulan kemuliaan. Di dalam bulan ini perang dengan orang kafir diharamkan. Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.”
Ya, Rajab adalah bulan yang mulia dan suci. Banyak peristiwa-peristiwa agung yang terjadi di bulan ini. Seperti kelahiran maupun kesyahidan para imam, peristiwa Isra’ Mi’raj, Hari Bi’tsah (pegangkatan) Nabi Muhammad saw. Berikut beberapa peristiwa besar yang terjadi di bulan Allah ini:
1.       Kelahiran Imam Muhammad Baqir as
Tanggal 1 Rajab 57 Hijriah,

Rabu, 06 Maret 2013

Mengenal Sahabat Maksumin: Kumail bin Ziyad an-Nakhai



Makam Kumail bin Ziyad an-Nakhai ra di Najaf, Irak
Setiap malam Jum’at, umat islam menghabiskan waktunya dengan berdoa. Salah satu doa yang paling disarankan untuk dibaca adalah doa Kumail. Doa Kumail adalah doa panjang yang sangat indah. Di dalamnya, terdapat permohonan-permohonan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baik berupa permohonan duniawi maupun ukhrawi. Lihatlah kata-kata indah yang mengalun menyelimuti bumi di malam Jum’at itu, “ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu. Dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu. Dan dengannya menunduk segala sesuatu... Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan, dosa-dosaku yang menyebabkan petaka, dosa-dosaku yang merusak nikmat, dosa-dosaku yang menghalangi doa, dosa-dosaku yang menurunkan bencana...”
Siapakah Kumail?

Senin, 04 Maret 2013

Khalifah Makmun, Seekor Elang, dan Imam Jawad Kecil



Suatu hari Makmun keluar dari istananya untuk berburu. Di jalan ia berpapasan dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain, di antaranya ada Imam Muhammad Jawad as. Ketika melihat rombongan khalifah, mereka lari ketakutan. Hanya Imam Jawad as yang bergeming. Khalifah Makmun menghampiri Imam dan bertanya, “mengapa kamu tidak ikut lari seperti yang lain? Imam menjawab, “aku tidak berbuat salah jadi mengapa aku harus lari? Apalagi jalannya cukup luas sehingga aku tidak perlu ke pinggir. Toh, tidak mengganggu perjalananmu, engkau dapat leluasa.”
 Makmun bertanya, “Wahai bocah! Siapa engkau?”
“Aku Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib!” jawab Imam.
“Ilmu pengetahuan apa yang telah kau warisi?” tanya Makmun.
Imam menjawab, “engkau dapat menanyakan berita langit dan bumi kepadaku!”

Selasa, 22 Januari 2013

9 Rabiul Awal, Hari Raya Zahra

Hari Raya Keluarga Muhammad
Masa dua bulan yang menyedihkan mencapai klimaksnya pada hari wafatnya Imam Kesebelas, Imam Hasan al-Askari, pada tanggal 8 Rabiulawal. Satu hari setelahnya, menurut riwayat, adalah hari id (perayaan) bagi pencinta ahlulbait as. Dikenal sebagai Id Zahra, hari untuk menghormati putri Nabi Muhammad saw. sebagai hari kegembiraan dan kebahagiaan bagi orang-orang beriman.

Sabtu, 22 Desember 2012

Juwaibar dan Dzulfa


الحب
Seorang laki-laki dari penduduk Yamamah datang ke Madinah dan memeluk islam. Keislamannya pun bagus. Maksudnya, dia mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan juga terdidik dengan pendidikan islam. Nama laki-laki ini adalah Juwaibar. Juwaibar adalah seorang laki-laki yang bertubuh pendek, buruk rupa, berkulit hitam, dan miskin. Oleh karena dia tidak mempunyai seorang kerabat pun di Madinah, maka pada malam hari dia tidur di masjid.

Kamis, 18 Oktober 2012

Karbala

Ali Asghor Yang Digendong Imam Husain as

Jepara, Jum’at petang, 10-12-10

        KARBALA. Tempat yang hanya dapat dijelaskan dengan kengerian, kedukaan, jeritan, tangisan dan kemuliaan serta persahabatan kemudian cinta. Andai kata, aliran sungai Eufrat dapat berkata, tentu hanya kalimat tangisanlah yang keluar dari lidahnya. Andai kata, debu-debu Nainawa itu sanggup berlari tanpa tiupan angin, pasti Karbala tak sebegitu ngerinya.

Minggu, 30 September 2012

Pribumi Indonesia: Adalah Keturunan Rasulullah yang Bermazhab Ahlulbayt (Syiah) 2



Budaya Kejawen sebagai Metamorfosis Ajaran Islam Syiah di Pulau Jawa

Kaum muslim Syiah telah mempersiapkan sebuah kemasan baru untuk menghindari konflik dengan kaum muslim Sunni. Mereka atampaknya akan menerapkan kembali suatu strategi yang sering mereka praktekkan di timur tengah. Strategi itu disebut dengan taqiyah. Setelah di timur tengah, mereka tidak mempraktekkannya lagi ketika di Perlak. Tetapi di pulau Jawa ini tampaknya mereka harus menerapkannya lagi. Hal tersebut perlu karena persatuan diantara syiah dan sunni harus segera dilaksanakan secepatnya sebelum orang-orang barat datang ke Nusantara untuk melakukan penjajahan. Tetapi taqiyah yang mereka terapkan di pulau Jawa akan jauh lebih ekstrim daripada yang pernah mereka terapkan di timur tengah. Karena berdasarkan pada pengalaman sebelumnya bahwa adanya segitiga kepentingan, yaitu; syiah, sunni, dan non-muslim, kaum muslim sunni sukar menerima suatu koalisi dengan kaum syiah untuk menghadapi non-muslim seperti Sriwijaya atau Majapahit, tanpa menimbulkan kerugian pada kaum muslim syiah. Padahal lawan non-muslim yang akan dihadapi kaum muslimin di masa depan adalah orang-orang Eropa yang lebih kuat.

Pribumi Indonesia: Adalah Keturunan Rasulullah yang Bermazhab Ahlulbayt (Syiah) 1

Masjid Kerajaan Perlak, Aceh



Saya orang Jawa, walaupun begitu saya tertarik sekali dengan asal-usul bangsa Indonesia dan keislamannya, berangkat dari situ saya melakukan literatur research pada wilayah Aceh dan Jawa. Pada akhir penelitian saya dapatkan kesimpulan bahwa yang pertamakali mengislamkan pribumi Nusantara adalah kaum muslimin keturunan Rasulullah yang bermazhab syiah. Suku-suku Pribumi Nusantara yang Islam atau yang telah memiliki tradisi Islam yang lama, seperti Aceh, Banjar, Makasar, Jawa, Sunda, Minang, Gorontalo, Lombok, Palembang, Kutai, Lampung, Ternate, dan daerah-daerah lain yang telah memiliki tradisi Islam yang lama sebenarnya merupakan orang-orang yang moyang mereka adalah keturunan Rasulullah yang bermazhab Syiah yang pertamakali mendarat di Nusantara di Aceh.
Sebenarnya saya sudah susun hasil penelitian ini menjadi sebuah buku, saya ingin sekali menerbitkannya. Akan tetapi kendalanya kemudian muncul disini. banyak penerbit yang khawatir dengan kontroversi yang ditimbulkan dari tulisan saya. terutama kekhawatiran mereka dengan tulisan saya yang mengetengahkan bahwa asal-usul nenek moyang kita adalah keturunan Rasulullah yang bermazhab Syiah dan bahwa orang Syiah lah yang mengislamkan penduduk Nusantara di Aceh dan Jawa untuk pertamakalinya. Hal ini akan mengganggu ketenangan para penganut islam mainstream (ahlus sunnah), apalagi penganut wahabi dan demikian pula ketenangan para habaib, yang mana sementara ini para habib-lah yang merasa bahwa mereka adalah satu-satunya kelompok yang merupakan keturunan Rasulullah di Nusantara.
Penelitian saya mengambil metode arkeologis dan antropologi sejarah. pokok inti permasalahan yang menghasilkan kesimpulan diakhir penelitian yang saya ambil berawal dari fakta-fakta yang seharusnya akan sudah sejak dahulu menggelitik rasa penasaran para ahli sejarah Nusantara jika mereka mau membuka mata pikiran dan mata hatinya. diantara fakta-fakta yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

Jumat, 06 April 2012

Menghantar “Keranda Malam”

Ya Syahidah
13 Jumadil Awal, saat surya bergeser ke arah barat sekitar pukul 1 siang, wanita yang sejak beberapa hari lalu terbaring sakit itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia terlihat benar-benar pulih. Dengan sigap dan gesit ia melakukan semua pekerjaan rumah yang terbengkalai, menyapu, lalu memasak dan memandingan kedua putranya yang masih kecil.

Betapa berbunga hati suaminya tatakala memasuki rumah yang telah tertata rapi dan menemukan istrinya sedang sibuk bermain dengan kedua putranya.

“Istriku, kau terlihat sehat dan bugar hari ini”

Kamis, 12 Januari 2012

Imam Ali as di Mata Sahabatnya, ‘Adhi bin Hatim ra

 ‘Adhi bin Hatim adalah salah seorang sahabat dan pecinta Imam Ali bin Abi Thalib as. Laki-laki ini masuk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah saw, dan dia masuk Islam dengan sesungguhnya. Pada masa kekhalifahan Imam Ali as dia berada di pihak Imam Ali as. Bahkan ketiga anak laki-lakinya, yaitu Tharif, tharaf, dan thaarif, syahid dalam perang Siffin membela Imam Ali as. Setelah syahidnya Imam Ali as dan jatuhnya kekhalifahan ke tangan Muawiyah, secara kebetulan ‘Adhi bin Hatim bertemu dengan Muawiyah.
Muawiyah berharap dengan  mengingatkan ‘Adhi bin Hatim tentang musibah kematian ketiga anak laki-lakinya, maka ‘Adhi bin Hatim akan berbicara mengenai Imam Ali as sesuai seleranya. Muawiyah bertanya kepada dia, ‘bagaimana ketiga anak laki-lakimu: Tharif, tharaf, dan thaarif?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘ketiganya telah syahid dalam perang Siffin di haribaan Ali.’ ‘Adhi bin Hatim sengaja menambahkan kata-kata ‘di haribaan Ali’ dengan maksud untuk menunjukkan kerelaan dan kebanggaan akan kesyahidan tiga orang putranya itu. Muawiyah berkata lebih lanjut, ‘Ali telah berlaku tidak adil terhadapmu, sementara dia mengirimkan anak-anakmu ke medan perang sehingga terbunuh dia malah menempatkan anak-anaknya di belakang medan pertempuran supaya tetap hidup.’ Mendengar kata-kata Muawiyah itu ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘justru sebaliknya saya telah berlaku  tidak adil terhadap Ali, karena saya membiarkannya terbunuh sementara saya masih hidup.
                Muawiyah melihat dia tidak memperoleh hasil dari rencananya itu, lalu dia mengubah pembicaraannya. Muawiyah berkata kepadanya, ‘gambarkanlah tentang Ali kepadaku.’ ‘Adhi bin Hatim berkata, ‘saya tidak mampu.’ Muawiyah mendesak, ‘tidak mungkin itu.
                Mendengar itu ‘Adhi bin Hatim pun berkata, ‘kalau sekiranya memang demikian, maka demi Allah, Ali adalah orang yang memiliki wawasan yang jauh, sangat kuat, bicara jelas, memutuskan perkara secara adil, ilmu memancar dari seluruh aspek kehidupannya, yang dari celah-celahnya meluncurlah hkimah. Dia orang yang sangat tidak menyukai kesenangan hidup dunia dan akrab dengan kegelapan malam. Ali adalah orang yang selalu banjir airmata, banyak berpikir, telapak tangannya selalu terbuka, tak pernah berhenti mengajak berdialog dirinya sendiri, berpakaian dan makan secara sangat sederhana.’
‘Demi Allah, dia tidak berbeda dengan kami. Selalu memberi ketika kami minta, menyambut bila kami datangi, dan selalu memenuhi undangan kami. Kami, demi Allah, betul-betul dekat dengannya. Kendati kami begitu dekat, namun kami tidak pernah berani berlagak sombong di hadapannya karena keagungannya. Dan bila dia tersenyum, ah, senyumannya sungguh gemerlap laksana mutiara.’
‘Dia adalah orang yang menghormati para ahli agama, mencintai orang-orang miskin. Orang-orang yang kuat tidak bisa mengharapkan kebatilannya, dan orang-orang yang lemah tidak pernah putus harapan dari keadilannya.’
‘Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku pernah menyaksikan apa yang dilakukannya di suatu malam yang gelap gulita dengan bintang-bintang yang sedang berkedip. Bibirnya bergetar mengucapkan kepasrahannya kepada Allah dan menangis demikian pilu. Masih segar dalam ingatanku, bahwa saat itu dia berkata, ‘wahai dunia, rayulah orang selainku. Aku menolak kedatanganmu dan tak mungkin menyambut bujukanmu. Pergilah, pergilah dari sisiku. Aku telah mentalakmu tiga kali, dan tidak mungkin aku merujukmu.  Umurmu pendek, kehidupanmu hina, sedang bahayamu sangatlah besar. Alangkah murahnya harga dirimu sebagai bekal, sedangkan jarak yang mesti kutempuh sangat panjang dan berat. ’ ’ (Safinah al-bihar, jil.2, hal. 170)
Ketika perkataan ‘Adhi bin Hatim sampai di sini, mulailah airmata Muawiyah berjatuhan, lalu Muawiyah pun mengambil sapu tangannya dan mengusapkannya ke kedua matanya. Ketika itu Muawiyah berkata, ‘semoga Allah swt merahmati Ali, sungguh benar apa yang kamu katakan. Sekarang, katakan bagaimana perasaanmu setelah berpisah dengan Ali ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘keadaanku tidak ubahnya seperti seorang ibu yang anaknya disembelih di pangkuannya.’ Muawiyah bertanya kembali, ‘tidak bisakah engkau melupakannya untuk sejenak ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘bagaimana mungkin kami bisa melupakannya!
(Dikutip dari buku ceramah-ceramah seputar persoalan penting agama dan kehidupan, Murtadha Muthahhari, hal. 95-97, buku kedua)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Belajar Dari Indahnya Akhlak Imam Ali Ar-ridho as



Salamun 'ala Ar-ridha as
Sebagai  manusia suci (maksum), Imam Ali bin Musa ar-ridha ‘alaihima salam sungguh memiliki akhlak yang sangat mulia. Ketika kita membuka lembaran sejarah kehidupan beliau, kita akan menyaksikan betapa akhlak Rasul saww mengalir deras dalam diri beliau. Kelembutan beliau terhadap orang lemah, kesederhanaan beliau,  penghormatan beliau terhadap seluruh makhluk membuat siapapun, entah kawan atau lawan, akan mengakui keutamaan beliau. Khalifah Makmun pernah berkata dengan kepada Fadhl  bin Shahl dan saudaranya, ‘tidak ada seorang pun yang lebih pandai di muka bumi ini melebihi orang ini (Imam Ali Ridha as)’ (al-irsyad, jil 2, hal 361). Ibnu Majah juga pernah berkata, ‘ia (Imam Ali Ridha) adalah pemimpin Bani Hasyim dan Makmun mengagungkannya dan memuliakannya…’ (a’yanusy-syi’ah, jil 4, hal 85)

Kamis, 22 September 2011

Kisah Perjalan Sayyidah Nargis, Ibunda Imam Zaman afs



Surat untuk putri dari Romawi
            Syekh Tabarsi, dalam bukunya al-ghaibah menuliskan riwayat dari bashar al-anshari, pelayan imam Naqi as. Suatu hari, Imam as berkata, ‘wahai Basyar, engkau berasal dari kaum Anshar, yang selalu setia kepada kami selama ini. Karena itu, aku telah memilihmu untuk menjalan sebuah misi penting.
Imam Naqi as kemudian menulis surat dalam bahasa romawi, lalu menutupnya dan diberi cap khusus milik Imam. Beliau as lalu memberikan surat itu beserta satu kantong berisikan 220 uang emas dinar. Basyar diperintahkan untuk pergi ke Baghdad dan menunggu di jembatan sungai Furat. Imam mengatakan pada Basyar bahwa di tepi sungai Furat itu dia akan mendapati perahu-perahu yang membawa para tawanan perempuan yang akan dijual sebagai budak. ‘perhatikanlah dari jauh, akan ada seorang pedagang budak bernama Umar bin Yazid an-nakhas. Tunggu sampai dia menggunakan pakaian sutra. Perempuan itu menggunakan cadar dan menolak membuka cadarnya, dan menolak siapapun menyentuhnya. Dia akan berteriak dalam bahasa Romawi untuk menghindarkan dirinya dari penodaan’ jelas Imam Ali Naqi as.  Selanjutnya, imam menambahkan, ‘seorang pembeli akan mengagumi kesuciannya, sehingga menawarkan uang 300 dinar kepada pedagang budak. Perempuan itu akan berkata padanya, ‘aku tidak menginginkanmu, meskipun kau menggunakan baju raja Sulaiman dan memiliki kerajaannya, jadi jangan buang-buang uangmu untukku.
Si pedagang akan berkata, ‘apa maksudmu? Bagaimanapun, engkau akan kujual!’ lalu perempuan itu akan menjawab, ‘mengapa terburu-buru? Aku akan memilih pembeli yang disukai hatiku, yaitu pembeli yang setia dan jujur.’ ‘Pada saat itu’ kata Imam kepada basyar, ‘datangilah pedagang budak itu dan katakana padanya bahwa engkau membawa surat dari seorang pria mulia yang ditulis dalam bahasa Romawi. Tunjukkan surat ini pada perempuan itu. Jika dia setuju, maka belilah budak perempuan itu.
            Setelah mendengarkan semua pesan Imam Ali Naqi as, Basyar pun berangkat menuju Baghdad. Benar saja, ia menyaksikan ada seorang perempuan dengan karekteristik seperti yang dikatakan Imam Naqi as. Basyar segera menyerahkan surat imam Naqi as kepadanya. Perempuan itu menangis setelah membaca isi surat tersebut, lalu segera berkata kepada penjualnya, ‘juallah aku kepada pemilik surat ini!’ setelah tawar menawar, akhirnya si penjual menerima harga sejumlah uang yang telah diberikan oleh Imam Naqi as kepada Basyar. Basyar melihat perempuan itu tersenyum senang. Lantas, Basyar pun membawa ke tempatnya menginap selama di Baghdad. Ketika tiba disana, Basyar melihat perempuan itu kembali membuka surat dari Imam dan menciumnya.

Jumat, 03 Juni 2011

Kisah Salman al-Farisi Mencari Kebenaran

Kisah Salman diceritakan langsung kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas:
Salman dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah  orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar. Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.
Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.
"Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku
membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan." "Ketika saya melihat mereka, saya menyukai salat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), 'Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami'".
Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. "Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku."
Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: "Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik."
"Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita," tegas Salman.
Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya.
Salman tak kehabisan akan dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah.
Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: "Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan salat dengan anda."
Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.
Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untukmenguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.
Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya.
Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.
Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu
mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.
Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau.
Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai
saudara.
Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah karena idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang
Khandaq. Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel.
Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.
Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh
bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.
Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin.
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.

Rabu, 20 April 2011

Diantara Karomah Sayyidah Fathimah binti Muhammad 'alaihas salam

            Rasulullah saww pernah bersabda 'Fathimah adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membuatnya marah maka ia telah membuatku marah.' (Shahih Bukhari, kitab awal penciptaan, bab manaqib keluarga dekat Rasulullah saww)
Dengan satu hadits ini saja, kita setidaknya sudah bisa meraba-raba betapa mulianya putri Rasulullah saww ini. Apalagi setelah kita melihat paparan karomah-karomah yang dimiliki Sayyidah Fathimah as berikut ini, akan membuat kita berani berkata dengan tegas 'Sayyida Fathimah adalah wanita mulia yang tak mampu disaingin oleh siapapun'. Rasul saww pernah ditanya perihal putri beliau, 'wahai Rasul, apakah Fathimah merupakan penghulu wanita di zamannya ?' kontan saja Rasulullah saww bersabda 'itu adalah Maryam binti Imran (Ibunda Nabiullah Isa as). Adapun putriku, Fathimah, merupakan penghulu kaum wanita di alam semesta, sejak awal sampai akhir.' (Al-bihar, juz 43, hal 24)

Karomah-karomah beliau as :
1. Berbicara dalam kandungan ibunya
Rasulullah saw bersabda: “Jibril datang kepadaku dengan membawa buah apel dari surga, kemudian aku memakannya lalu berhubungan dengan Khadijah kemudian ia mengandung Fatimah.” Khadijah berkata: Aku hamil dengan kandungan yang ringan. Ketika engkau keluar rumah janin dalam kandunganku ngajak bicara denganku. Ketika aku akan melahirkan janinku aku mengirim utusan pada perempuan-perempuan Quraisy agar membatuku untuk melahirkan janinku, tapi mereka tidak mau datang bahkan mereka berkata: Kami tidak akan datang untuk menolong isteri Muhammad. Ketika itulah datang empat perempuan yang berwajah cantik dan bercahaya, salah dari mereka berkata: Aku adalah ibumu Hawa’; yang satu lagi berkata: Aku adalah Asiyah binti Muzahim; yang lain berkata: Aku adalah Kultsum saudara Musa; dan yang lain lagi berkata: Aku adalah Maryam binti Imran ibunda Isa. Kami datang untuk menolong urusanmu ini. Kemudian Khadijah berkata: Maka lahirlah janinku dalam kedaan sujud dan dengan jari-jarinya terangkat (seperti orang berdoa). (Dzakhair Al-‘Uqba, hal 44)
2. Malaikat membantu sayyidah Fathimah as
            Abu Dzar al-ghifari ra berkata 'aku diutus Rasulullah saww untuk memanggil imam Ali. Aku bergegas mendatangi rumah beliau. Pada saat aku memanggil-manggil beliau, tak seorangpun yang menjawab panggilanku. Namun aku melihat alat penggilingan sedang berputar tanpa seorangpun yang kulihat ada disana. Kembali aku memanggil beliau; tak lama kemudian, beliau pun keluar dan kuajak menemui Rasulullah saww. Kemudian Rasulullah  mengatakan sesuatu sambil berbisik kepada beliau, yang tidak dapat kudengar. Lalu aku berkata 'sungguh mengherankan penggilingan di rumah Ali yang berputar sendiri tanpa seorangpun yang menggerakkan.' Rasulullah kemudian menjawab 'sesunguhnya Allah telah memenuhi hati dan sekujur tubuh putriku, Fathimah, dengan keimanan dan keyakinan. Dan sesungguhnya Allah telah mengetahui kelemahannya sehingga Dia membantunya sepanjang masa..,' (Al-bihar, juz 43, hal 29)
3. Makanan dari sisi Allah swt
            Jabir anshari ra berkisah bahwa beberapa Rasulullah saww tidak makan sedikitpun makanan sehingga dirinya lemas, kemudian beliau mendatangi istri-istrinya untuk mendapat sesuap makanan, tapu hasilnya nihil. Lalu beliau mendatangi sayyidah Fathimah as dan berkata 'wahai putriku, apakah engkau punya makanan untuk aku, aku lapar.' Sayyidah Fathimah as berkata 'demi Allah, demi ayah dan ibuku, aku tidak punya makanan.'
ketika Rasul saww keluar dari rumah sayyidah Fathimah as, ada seorang perempuan mengirimkan dua potong roti dan sepotong daging, lalu sayyidah Fathimah as mengambilnya dan meletakkannya dalam mangkok besar dan menutupinya. sayyidah Fathimah as berkata, 'sungguh makanan ini akan kuutamakan untuk Rasulullah saww daripada diriku dan keluargaku. Meski mereka juga membutuhkan sesuap makanan.'
Sayyidah Fathimah as berkata 'lalu aku mengutus Hasan dan Husain kepada kakeknya, Rasulullah saww. Kemudian Rasulullah datang kepadaku. Aku berkata 'ya Rasulallah, demi ayah dan ibuku, Allah telah mengaruniakan kepada kami sesuatu, lalu aku menyimpannya untuk kupersembahkannya kepadamu.' beliau as melanjutkan, 'ada seseorang mengantarkan makanan padaku, lalu aku meletakkannya dalam mangkok besar dan aku menutupinya. Saat itu juga, dalam mangkok itu penuh dengan roti dan daging. Ketika aku melihatnya, aku merasa takjub. Aku tahu bahwa itu adalah keberkahan dari Allah swt, lalu aku memujiNya dan bershalawat kepada nabiNya.'
Rasul lalu bertanya, 'dari mana makanan ini wahai putriku ?' sayyidah Fathimah as menjawab 'makanan ini datang dari sisi Allah, Allah mengaruniakan rejeki kepada orang yang dikehendakiNya secara tak terduga. Kemudian Rasul mengutus seseorang kepada imam Ali as, lalu ia datang. Rasulullah, imam Ali, sayyidah Fathimah as, imam Hasan as dan imam Husain as serta semua istri Nabi makan makanan itu hingga mereka kenyang. Namun makanan itu tetap memenuhi mangkok itu. Lalu aku juga mengantarkan makanan itu pada semua tetanggaku. Allah menjadikan dalam makanan itu keberkahan dan kebaikan yang panjang waktunya. Padahal awalnya, makanan dalam mangkok itu hanya dua potong roti dan sepotong daging, selebihnya adalah keberkahan dari Allah.'
Dalam  hadits lain, disebutkan bahwa Rasul bersabda kepada sayyidah Fathimah as dan imam Ali as, 'segala puji bagi Allah yang tidak mengeluarkan kalian berdua dari dunia sehingga Allah menjadikan bagimu (Ali) apa yang telah terjadi pada Zakaria, dan menjadikan bagimu wahai Fathimah apa yang telah terjadi pada Maryam. Inilah yang dimaksudkan dalam Firman Allah, 'setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya, ia dapati makanan disisinya. (Ali Imran : 37)' (Tafsir al-kasysyaf, karya Zamakhsyari, tentang tafsir ayat diatas)
Jpr, Minggu pagi, 16-04-11

           

Kamis, 17 Maret 2011

Imam Hasan bin Ali al-askari as, ayahanda Imam Mahdi al-muntadzar afs




Rasulullah saww adalah penutup para nabi dan rasul. Setelah beliau wafat, wahyu ilahi tidak pernah lagi turun ke bumi. Risalah Tuhan telah disempurnakan oleh Rasulullah saww. Ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah agama terakhir dari rangkaian agama-agama samawi. Umat islam adalah umat terbaik. Begitu pula ajaran dan syariatnya. Hal ini jelas diketahui oleh Allah dan RasulNya, keadilan dan kasih sayangNya menuntut keberadaan islam yang akan terus lestari hingga kiamat ini harus dijaga oleh manusia-manusia yang pantas dan tepat. Allah swt tak akan membiarkan umat islam tanpa pemimpin yang ditunjuk langsung olehNya.akal pun menghukumi bahwa islam (agama tersempurna) harus dipimpin oleh orang-orang yang juga sempurna, dari segi apapun. Baik ilmu, akhlak, ibadah, dst. Mengingat pentingnya keberadaan pemimpin (imam) setelah Rasulullah saww wafat, beliau jauh-jauh hari sudah mengenalkan pada umat islam siapa pemimpin mereka. siapa manusia sempurna yang paling cakap memimpin umat. Beliau saww bersabda ‘aku tinggalkan dua pusaka berharga ditengah kalian, al-qur’an dan keturunanku (ahlulbaytku). Keduanya tidak akan berpisah selamanya, dan jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat’ (HR Muslim)
Assalamu alaika ya Aba Muhammad Hasan Ibn Ali as
Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba mengenal salah satu manusia suci pusaka Rasul itu, beliaulah Imam Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ‘alaihimus salam.

Sabtu, 19 Februari 2011

Mengidolakan Rasulullah saww


Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat sedang dia banyak mengingat Allah’ (Q S Al-ahzab : 33)

Muhammad, Rahmatan Lil 'Alamin
Dewasa ini, kaum muslim mulai meninggalkan pribadi-pribadi agung yang terlahir sebagai pahlawan islam. Sebaliknya, dengan berbangga hati kaum muslim akan mengatakan bahwa mereka adalah salah seorang pecinta manusia-manusia biasa yang tiada pernah menjadi pujaan malaikat. Anak-anak muda sekarang lebih mengenal Justin Bieber dibanding Husen Fahmideh, seorang pemuda yang berani meluluh-lantahkan dirinya demi menjaga negeri tercinta. Ini jelas-jelas merupakan krisis percaya diri dan karakter. Umat islam akan malu menggunakan ‘peci’, sebaliknya akan sangat bangga ketika rambutnya disisir meniru gaya rambut artis-artis dalam maupun luar negeri.
Krisis percaya diri inilah yang diinginkan manusia-manusia setan. Karena, setelah umat islam mulai meninggalkan para pahlawan-pahlawan islam dan berpaling pada pahlawan-pahlawan palsu ala setan, otomatis islam hanya akan tinggal nama. Kejayaan islam yang telah dirintis dengan darah dan keringat akan segera roboh setelah umat islam tidak lagi mengenal manusia-manusia Tuhan, setelah umat islam melupakan nama Muhammad bin Abdullah saww. Ketika ini terjadi, para malaikat yang menyaksikan proses lahirnya agama sempurna ini hanya akan menunduk kalah terhadap setan-setan yang berhasil membujuk konco-konconya untuk bersama-sama menghapus islam dari ingatan manusia.

Rabu, 09 Februari 2011

Al-Mahdi, Keadilan dan Kebahagiaan Akhir Zaman



Dimanakah bahtera penyelamat?
Dini hari menjelang subuh, tanggal 15 Syaban 255 Hijriyah, rumah Imam Hasan al-Askari (as) diterangi oleh cahaya imamah yang lahir dari rahim wanita suci bernama Narjis. Kelahiran bayi ini disambut dengan suka cita oleh sang ayah sebab dialah yang kelak akan menjadi pemimpin dunia dan menegakkan keadilan dan kebenaran di seluruh muka bumi. Dialah al-Mahdi yang berita kedatangannya sudah dikabarkan oleh para Nabi. Sekitar 30 tahun lalu Dr Mohammad Tijani, ulama dan cendekiawan asal Tunis dalam bukunya yang berjudul ‘Tsumma Ihtadaitu’ (Akhirnya Kutemukan Kebenaran), menulis, “Selama ini saya meyakini bahwa khilafah adalah masalah politik murni yang tak ada kaitannya dengan agama. Tapi setelah melakukan telaah mendalam dan luas, akhirnya saya dapatkan bahwa masalah imamah atau kepemimpinan adalah salah satu masalah inti agama. Imam Mahdi (as) adalah figur terakhir dari silsilah pemimpin dari keturunan Nabi yang kelak akan membebaskan umat manusia dan menampakkan kebesaran Islam.”
Tijani menegaskan bahwa prisip Mahdisme menjadi salah satu faktor ketertarikan orang di luar Islam kepada ajaran ini. Sang Doktor mengatakan, “Ketertarikan kepada Islam yang semakin tinggi dan mengundang keheranan kalangan para sosiolog dan peneliti agama di seluruh dunia disebabkan oleh faktor adanya prinsip keselamatan umat Manusia di akhir zaman. Seiring dengan memancarnya cahaya Islam di dunia, upaya keras untuk memerangi agama ini juga terus meningkat. Namun pada akhirnya, Imam Mahdi (as) bakal muncul laksana mentari yang menerangi seluruh jagat.”
Seiring dengan revolusi Imam Mahdi dan terjadinya perubahan besar yang mengubah nasib umat manusia, Islam akan menjadi agama yang dianut oleh seluruh manusia di dunia. Kebangkitan Imam Mahdi dan penyebaran agama Islam seluruh dunia adalah fakta pasti akan terjadi. Nabi Saw sudah memberikan kabar gembira kedatangan Imam Mahdi dalam sebuah hadisnya. Beliau bersabda, “Saya memberi kabar gembira kepada kalian akan kedatangan al-Mahdi dari umatku. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Dia akan membagi kekayaan dengan benar dan adil.”
Imam Mahdi (as) membawa pesan universal. Kebangkitannya akan membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan dan kezaliman. Kedatangan Imam Mahdi (as) akan menampakkan berkah yang terpendam di langit dan bumi. Syahid Ayatollah Sayid Mohammad Baqir Sadr mengatakan, “Misi yang dipikulkan Allah kepada Imam Mahdi (as) adalah melakukan perombakan besar di alam. Karena itu, revolusi besar ini memerlukan sejumlah persyaratan seperti revolusi-revolusi sosial lainnya. Revolusi ini bakal membawa umat manusia keluar dari kegelapan kezaliman kepada cahaya keadilan.”
Salah satu gelar paling terkenal untuk Imam di akhir zaman ini adalah ‘al-Mahdi’ yang berarti ‘orang yang diberi petunjuk’ dan ‘al-Qaim’ yang artinya ‘orang yang bangkit’. Imam Hasan Askari, ayahanda Imam Mahdi, pernah berkata, “Syukur kepada Allah yang tidak mencabut ruhku sampai aku bisa menyaksikan penerusku. Dia adalah orang yang perilaku dan rupanya paling mirip dengan Rasulullah Saw. Allah akan melindunginya selama masa ghaib dan akan memunculkannya kembali untuk memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi oleh kezaliman.” Rasulullah Saw mengenai Imam Mahdi, dalam sebuah hadis bersabda, “Baqiyyatullah al-Mahdi saat muncul kelak akan duduk di atas mimbar sedangkan umat manusia berbaiat kepadanya. Dia akan memperlakukan mereka seperti aku memperlakukan umat.” Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Al-Mahdi dari keturunanku. Dia akan berperang untuk memperjuangkan sunnahku sebagaimana aku berperang untuk menegakkan wahyu.” Hadis Nabi Saw yang lain menyebutkan, “Dia akan meletakkan kaki dia atas jejakku dan tak akan pernah menyimpang dari jalanku.” “Al-Mahdi adalah salah satu keturunanku. Namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku.”
Sirah Nabi Saw dilandasi oleh sikap kasih sayang dan cinta. Ketika menundukkan kota Mekah saat pasukan Muslim memasuki kota itu, Saad bin Ubadah pemegang panji kelompok Anshar berseru, “Hari ini adalah hari pertempuran.” Suara Saad didengar Rasul Saw. Beliau lantas bersabda, “Tidak demikian, hari ini adalah hari pengampunan dan rahmat.” Imam Mahdi (as) akan mengikuti jejak kakeknya yang mulia. Beliau adalah rahmat bagi umat manusia. Kasih sayangnya kepada umat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Al-Mahdi adalah makhluk Allah yang paling suci, kandungan kemurahan dan kesucian serta mengibar panji keadilan. Nabi menyebutnya Merak penghuni surga. Beliaulah yang kelak akan menghidupkan pelita benderang kebenaran dan keadilan serta membimbing dunia kepada kebahagiaan hakiki. Imam Ja’far Shadiq (as) berkata, “Demi Allah, keadilan yang ditegakkan al-Mahdi akan menembus ke seluruh lorong dan sudut setiap rumah seperti udara panas dan dingin yang menembus ke semua ruang.”
Sejarah manusia belum pernah menyaksikan tegaknya keadilan secara nyata dan sesungguhnya di muka bumi. Padahal manusia secara fitrah mendambakan keadilan dan kedamaian. Manusia memang telah berhasil mencapai banyak kemajuan di bidang ilmu. Namun dalam banyak kasus kemajuan ilmu itu malah membawa petaka dan kehancuran. Kelak di masa pemerintahan al-Mahdi, kemajuan akan dicapai dalam bentuknya yang paling sempurna dengan hasilnya yang dirasakan oleh semua manusia secara nyata. Di masa itu, tak ada celah bagi kemunafikan dan diskriminasi. Hubungan antara berbagai bangsa berjalan atas dasar keadilan, persahabatan dan rasa hormat. Kebenaran hakiki dalam bentuk ajaran Islam akan nampak dan seluruh umat manusia akan mengikutinya. Di masa itu, pemikiran umat manusia akan menyatu. Mereka semua menyembah dan mengagungkan Allah yang Maha Esa. Akal manusia akan mencapai kematangan yang menakjubkan dan ilmu akan berkembang secara mencengangkan. Tak ada kerusuhan, konflik dan ketidakamanan di zaman itu. Firman Allah yang menyebutkan tentang pergantian rasa takut menjadi ketentraman akan menemukan wujudnya yang nyata. Dunia dipenuhi dengan kehangatan, keakraban, perdamaian dan kasih sayang. Dunia benar-benar berada dalam keindahan yang sebenarnya. Untuk menegakkan pemerintahan yang dicita-citakan itu, tentunya al-Mahdi memerlukan para pengikutnya yang setia dan suci. Mereka adalah manusia-manusia pemberani, bijak dan pecinta keadilan. Merekalah yang bakal berjuang di bawah kepemimpinan al-Mahdi untuk menegakkan pemerintahan ilahi yang hakiki. Imam Ali (as) dalam sebuan riwayat menyebutkan bahwa para sahabat al-Mahdi adalah para pemuda. Saat muncul kelak, Imam Mahdi (as) berpenampilan layaknya sosok manusia matang berusia 40 tahun. Jumlah sahabat terdekat beliau 313 orang sama dengan jumlah sahabat Nabi Saw di perang Badr.
Sumber : IRIB

Kamis, 03 Februari 2011

Kepergian Sayyidul Mursalin Muhammad saw

Muhammad Rasulullah saww


                Ali selalu bersama Nabi saww, bak pohon dengan bayangannya sampai akhir hidup beliau yang mulia. Nabi saww berwasiat kepadanya, mengajarinya dan menyampaikan rahasia kepadanya. Dan pada detik-detik terakhir hidupnya, Rasulullah saww berkata ‘panggilkanlah saudaraku Ali.’ Saat itu, Ali sedang melaksanakan urusan yang diperintahkan oleh Nabi saww. Lalu sebagian muslim mendatangkannya. Kemudian beliau berkata kepada Ali, ‘mendekatlah kepadaku.’ Lalu Ali pun mendekat dan Nabi saww bersandar padanya. Nabi saww terus berbicara padanya sambil menyandar padanya hingga tanda-tanda sakaratul maut menghampirinya.[i] Rasul saww meninggal dunia di pangkuan Ali, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ali as sendiri dalam salah satu khotbahnya[ii] yang terkenal.

Sabtu, 08 Januari 2011

Berterima kasihlah kepada imam Ja’far shadiq as



Berterima kasih adalah sebuah keharusan menurut akal. Akal menghukumi jika kita diberi sesuatu oleh seseorang maka kita dianjurkan untuk berterima kasih. Nah, dalam pembahasan kali ini kami mencoba memberikan pemaparan tentang peranan imam Ja’far shodiq as dalam menegakkan ajaran Rasulullah saww. Lantas, apa yang telah dilakukan imam Ja’far as untuk kita hingga kita harus berterima kasih? Sebelum menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya jika kita sedikit menelisik keadaan masyarakat pada masa itu, sehingga kita bisa lebih mengerti sikap yang diambil imam yang mulia ini, imam Ja’far bin Muhammad As-shodiq as.

Kondisi pemikiran(ideologi) masyarakat pada masa imam Ja’far shodiq as
Jika dilihat, keadaan masyarakat pada masa itu sudah sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah saww. Sebut saja maraknya aliran-aliran yang mulai menciptakan ajaran-ajaran mereka sendiri seperti mu’tazilah, zandaqah, ekstrimisme dll yang membuat perbedaan dalam islam semakin mencolok. Hal ini terjadi lantaran perbuatan para pemimpin bani Umayyah maupun Abbasiyah yang berusaha memisahkan umat islam dari Ahlulbayt.
Ya, ditangan penguasa agama hanya dijadikan alat propaganda demi melanggengkan kekuasaan mereka. mereka menyewa ulama untuk menyebarkan politik-politik kotor mereka. Hal ini dapat dilihat dalam penyelewengan-penyelewengan berikut ini. Dari penyelewengan tafsir Al-qur’an hingga sejarah nabi saww.

~. penyelewengan terhadap tafsir Al-qur’an.
Mereka para penguasa bani Umayyah menggunakan kisah-kisah israiliyat (khayalan-khayalan) untuk menafsirkan ayat al-qur’an. Seperti yang diriwayatkan bahwa Mua’wiyah berkata kepada Ka’b, “kamu berpendapat bahwa Zulkarnain mengikat kudanya pada bintang-bintang?” Ka’b menjawab “jika kamu berkata demikian maka sesungguhnya Allah telah berfirman ‘dan kami telah memberikan kepadanya sebab (untuk mencapai) segala sesuatu”i. Maksudnya ialah Ka’b meyakini kalau Zulkarnain mengikat kudanya pada bintang-bintang. Sungguh akal akan menolak hal ini. Walaupun apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, akan tetapi ini tidak membuat Allah akan bertindak seenaknya, karena hal itu berarti Allah telah berbuat dzolim terhadap hambaNya. Dan mustahil Allah berbuat dzolim.

~. Penyelewengan terhadap hadits nabi saww
Diriwayatkan dalam Shahih Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad saww berdo’a untuk Muawiyah bin abu sufyan “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai orang yang memberi petunjuk dan tempat memberi petunjuk serta berilah petunjuk dengannya”ii
Lihatlah, dengan mudahnya perkataan suci Nabi saww dibuat-buat seenaknya saja! Pantaskah Nabi saww mendoakan seorang pembunuh washinya? Mendoakan pembunuh cucunya Al-hasan? Pantaskan Nabi saww mendoakan orang yang menancapkan Al-qur’an keujung tombak? Tidak! Hadits ini adalah ulah tangan jail bani Umayyah melalui para ulama berhati serigala mereka!

~. Penyelewengan terhadap sejarah kehidupan rasul saww
  1. Nabi menggendong Aisyah diatas pundak beliau untuk melihat permainan akrobatik orang-orang Sudan dan pipi beliau menempel dipipi Aisyah.
  2. Nabi saww mencintai istri anak angkatnya setelah beliau merangsang melihatnyaiii.
Astagfirullah, hanya demi kekuasaan duniawi bani Umayyah rela memutar-balikkan fakta! Pantaskah Nabi yang dipuji oleh Allah swt karena keluhuran akhlaknya melakukan perbuatan nista tersebut? Sekali lagi, tidak! Hanya setanlah yang merasuk ke tubuh Dinasti Umayyah yang berani mengatakan hal ini!
Dengan adanya penyelewengan-penyelewengan diatas, membuat umat islam yang telah kehilangan seorang rasul terbaik semakin terperosok kedalam jurang kebodohan dan kehancuran. Akibatnya muncullah ajaran-ajaran yang telah keluar dari ajaran Rasul saww seperti :

1. Al-jabr (pemaksaan)
Pandangan ini berpendapat bahwa segala perbuatan manusia adalah perbuatan Allah, manusia tak memiliki ikhtiar, sebut saja boneka yang dipermainkan sesuka hati oleh pemiliknya. Dalil mereka adalah q s Al-insan ayat 30 dan al-an’am ayat 125 dsb. Pelopor pemikiran ini adalah para penguasa bani Umayyah. Dengan begini, masyarakat akan yakin bahwa yang dilakukan bani Umayyah adalah kehendak Allah. Sehingga masyarakat tidak berhak menentang merekaiv. Akhirnya masyarakat hanya bisa menerima segala perbuatan jahat bani Umayyah yang mengatasnamakan ‘kehendak Tuhan’.
Betapa licik dinasti Umayyah, menggunakan agama untuk menetapkan kedzaliman. Dan politik ini berjalan lancar, sehingga banyak umat islam yang menganut ajaran ini pada masa Imam Ja’far shodiq as.

2. Zandaqah (ateis)
Pemikiran ini muncul pada masa imam Ja’far shodiq as. Akibat dari adanya pandapat Al-jabr, maka muncullah ajaran Zindiq (anti tuhan) sebagai penolakan pandangan Jabr yang mengatasnamakan ‘kehendak Tuhan’. Ajaran ini muncul juga dikarenakan oleh kezaliman dan kebiadaban bani Umayyah dalam segala lini kehidupan. Dan tentu saja hal ini sangat berperan dalam memisahkan masyarakat dari Ahlulbayt yang merupakan pusaka suci nabi saww.
Tersebutlah Ja’d bin dirham, seorang ekstrim kufur, pembuat bid’ah yang memdedikasikan hidupnya dalam zandaqah serta memdengungkan ateis (tidak meyakini adanya Tuhan)v. Dia menunjukkan kedangkalan akalnya secara demonstratif, seperti memasukkan tanah dan air dalam sebuah botol, kemudian beberapa saat terdapat cacing dalam botol yang semula diisi dengan tanah dan air tersebut. Kemudian dia berkata kepada para sahabatnya “aku telah menciptakannya, karena aku adalah sebab keberadaannya”. Imam Ja’far as mendengar berita ini dan membantahnya dengan bukti rasional, beliau berkata “jika dia (Ja’d) yang menciptakannya maka tanyakan kkepadanya berapa jumlahnya? Berapa yang jantan dan yang betina? Berapa beratnya masing-masing? Mintalah kepadanya untuk mengubahnya menjadi bentuk yang lain!vi
Jika melihat uraian diatas, maka dengan sangat jelas kita dapat melihat betapa melencengnya umat islam dari ajaran Allah yang sebenarnya. Maka, nanti kita akan melihat bagaimana imam menyelamatkan umat kakeknya ini.


Kondisi politik pada masa imam Ja’far shodiq as
Ima Ja’far shadiq as memiliki dua fase dalam kepemimpinan beliau: pertama, fase runuhnya Dinasti Umayyah hingga kehancurannya (114-132h). kedua, fase kekuasaan Dinasti Abbasiyah sampai beliau wafat (132-148h) dan kondisi politik pada masa imam Ja’far shodiq as tidak terlalu berbeda dengan situasi pada masa ayah beliau. Hisyam bin abdul malik yang membunuh imam Muhammad al-baqir as (ayah imam Ja’far) masih tetap berkuasa dan penerapan politiknyapun masih sama dengan masa ayahnya. Sistem politik penguasa pada masa itu dibangun dengan dasar bar-bar, sehingga para pecinta Ahlulbayt harus rela tertindas, dihina bahkan dibunuh secara tragis. Bahkan bukan hanya para pecinta keluarga nabi saja, para kaum fakir nan miskin yang tidak mengenal ahlulbayt pun juga disiksa dan dibunuh.
Hal ini dapat dilihat dalam diri Zain bin ali bin husain ra. Zaid bin ali ra menggambarkan betapa biadabnya para penguasa pada masa itu sehingga menciptakan tragedi dahsyat pada umat. Jabir bin yazid ju’fi meriwayatkan ungkapan Zaid bin ali ra saat dia bertemu “wahai Jabir, aku tak bisa tinggal diam sementara kitabullah dilanggaar dan perilaku mereka (penguasa) seperti setan. Aku menyaksikan Hisaym dan seorang lelaki menghina Rasulullah saww. Aku berkata kepada si penghina itu ‘celakalah kamu hai kafir!seandainya aku bisa pasti kucabut nyawamu dan segera kuhempaskan ke neraka’ kemudian Hisyam berkata kepadaku ‘santai saja, duduklah bersama kami hai Zaid’ ‘demi Allah, seandainya tidak ada orang lain selain aku dan Yahya putraku, niscaya sudah aku hajar dia hingga mati”vii
Lantas bagaimana akhir nasib Zaid bin ali ra ini? Beliau ditangkap dan dibunuh, kemudian jasadnya disalib didaerah Kisanah, Kufah pada tahun 121h.viii
Dikarenakan mengadopsi gaya bar-bar rezim Umayyah akhirnya runtuh setelah sekian lama merongrong islam dari dalam. Situasi politik pada masa itu sangat bergejolak setelah terbunuhnya Zaid bin ali ra. Dan dikarenakan para penguasa lebih memfokuskan diri dalam menjaga kekuasaannya dari tangan para pemberontak, ini mengakibatkan melonggarnya tekanan terhadap imam Ja’far shodiq as dan kesempatan berharga ini digunakan dengan sebaik-baiknya oleh imam Ja’far shodiq as.
Dengan melihat kondisi yang sedemikian rusak ini, tentu hal yang sangat sulit untuk menegakkan kembali kebenaran. Maka sekarang mari kita lihat sikap apa yang diambil sang maha guru ini.

Sikap Bijak Sang Maha Guru Imam Ja’far Shodiq as
Sekelumit gambaran tentang kondisi pemikiran maupun politik pada masa imam Ja’far telah menceritakan kepada kita betapa rumit situasi pada masa itu dan risalah imamah yang dipegang imam tak henti-hentinya mengalami ancaman.
Bani Umayyah telah sekian lama memisahkan umat islam dari islam. Budaya jahiliyah kembali menjamur dibumi islam. Begitu juga pemikiran-pemikiran barat mulai mengotori kesucian aqidah yang dibangun oleh Rasul saww, keluarga serta sahabatnya yang setia.
Tak hanya kerusakan aidah, kerusakan sosial pun tak bisa lagi dielakkan. Harta umat islam dihambur-hamburkan oleh penguasa. Maka sudah barang tentu imam Ja’far as tidak hanya berdiam diri menyaksikan keadaan itu. Imam menganggap perlu adanya pemahaman masyarakat terhadap islam yang murni setelah islam Muhammadi telah dipisah dari umat Muhammad oleh bani Umayyah.
Imam tidak memilih ‘angkat senjatasebagai cara untuk melawan para diktator. Sikap yang efektif dan jenius ini menjadi cemerlang ditengah semaraknya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan islam dan pembaharuan.
Imam menata kembali sendi-sendi islam. Beliau mengemas dakwahnya tidak dengan perlawanan fisik, namun tetap seperti semula yang telah dibangun oleh ayahnya imam Al-baqir as yaitu mencetak generasi tercerahkan dibawah risalah ahlulbayt rasul. Sistem dakwah beliau ini sangat tepat karena jika imam tidak mencerahkan umat islam dengan risalah Muhammad saww, tentulah islam yang dikenal islam Umawiyah yang penuh dengan penindasan dan kebohongan, bukan islam Muhammadi yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Jika diringkas, ada dua macam penyimpangan besar pada masa imam.
Pertama, penyimpangan politik para aparatur pemerintah
Kedua, penyimpangan aqidah, pemikiran serta akhlak.
Sedangkan prinsip yang dipegang oleh imam untuk melakukan reformasi universal ialah:
Pertama, bersikap terbuka kepada kelompok-kelompok umat yang memiliki peranan politik secara pemikiran dan gerakan. Atau dengan kata lain semakin menyiarkan akademi ahlulbayt setelah sekian lama dikaburkan oleh penguasa pada masa itu. Ini adalah prinsip umum imam Ja’far shodiq as.
Kedua, mencetak generasi cerdas yang kelak menjadi ulama yang berpemikiran modern dan memiliki pemahaman utuh tentang islam. Dan ini adalah prinsip khusus imam.

1. Imam dalam menentang penyimpangan politik penguasa
Sikap imam terhadap penguasa
~. Imam menjelaskan bahwa pemerintahan diktator adalah tidak sah. Beliau melarang umat islam berkonsultasi kepada para penguasa. Karena merekalah yang menciptakan sengketa yang berkepanjangan. Beliau berkata “jangan pernah sebagian dari kalian dan yang lainnya mencari keadilan hukum dari orang zalim. Kembalilah kepada salah seorang dari kalian yang memahami masalah kita. Kemudian patuhilah dia. Sesungguhnya aku telah menjadikannya sebagai hakim (bagi masalah kalian) maka carilah penyelesaian pertikaian kalian kepadanyaix
~. Imam mengharamkan kerjasama dengan rezim biadab, para diktator. Beliau berkata “sesungguhnya dihari kiamat para penolong kezaliman berada dalam gejolak api neraka sampai Allah menetapkan hukumNya diantara hamba-hambaNya”x

~. Apabila telah bekerja sama dengan pemerintah maka hendaknya dia memutuskan hubungan itu.
Ali bin hamzah berkata “aku mempunyai seorang teman, dia salah seorang juru tulis bani Umayyah. Dia berkata kepadaku ‘izinkan aku bertemu imam Ja’far as’ kemudian aku mengizinkannya. Diapun masuk kemudian memberi salam dan duduk, setelah itu dia berkata kepada imam ‘demi dirimu, sesungguhnya aku berada diistana orang-orang itu. Aku mendapatkan harta yang banyak dari dunia mereka dan memicingkan mata terhadap tuntutannya’ imam berkata ‘seandainya bani Umayyah tidak menemukan orang yang menulis dan mengumpulkan pajak untuk mereka, berperang untuk mereka dan menyaksikan jama’ah mereka, maka mereka tidak akan merampas hak kami. Seandainya orang-orang meninggalkan mereka dan semua yang ada ditangan mereka, mereka tidak akan menemukan apapun kecuali yang berada ditangan mereka’.
Dia berkata ‘demi dirimu, apakah ada jalan keluar bagiku?’ imam berkata ‘jika aku memberitahumu apakah kamu akan melaksanakannya?’ dia berkata ‘aku akan melaksanakannya’ beliau berkata keluarkanlah semua yang kamu dapatkan dalam istana-istana mereka. Siapa yang kamu kenal dari mereka, kamu kembalikan harta itu kepadanya dan siapa yang tidak kamu kenal, kamu sedekahkan harta itu’ xi
Jelaslah, imam Ja’far as bersikap keras dalam menghadapi para penguasa.
Unsur bara’ah sangat jelas dalam pernyataan-pernyataan beliau. Walaupun tidak mengangkat senjata akan tetapi imam tetap berbaroah dari musuh-musuhnya.

Sikap imam tentang kepemimpinan (imamah)
~. Imam memberikan pendidikan kepada umat islam tentang risalah ilahiah (ketuhanan) yang kewenangannya telah dirampas dari pangkuan umat islam.
Imam memaparkan pesan-pesan al-qur’an secara luas dan mendalam untuk menjawab doktrin-doktrin pemikiran yang berusaha membekukan risalah ilahiah.
Allah swt berfirman “dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman “sesungguhnya aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia” Ibrahim berkata “juga dari keturunanku?” Allah berfirman “janjiku tidak meliputi orang-orang zalim (q s al-baqarah:124)
Tentang ayat ini, imam menjelaskan bahwa Allah menjadikan Ibrahim sebagai hamba sebelum menjadikannya sebagai nabi. Allah menjadikannya sebagai nabi sebelum menjadikannya rasul. Allah menjadikannya rasul sebelum menjadikannya sebagai khalil (kekasih) dan Allah menjadikannya sebagai khalil sebelum mengangkatnya menjadi imam. Ketika Allah telah mengumpulkan semua kesempurnaan untuk Ibrahim, Dia berfirman “sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Kemudian imam melanjutkan “karena keagungan imamah dimata Ibrahim as, dia berkata ‘juga dari keturunanku’ Allah berfirman ‘janjiku tidak meliputi orang-orang zalim’ ”xii

~. Imam juga menjelaskan pribadi amiril mukminin Ali bin abi thalib as dengan hadits Ghadir.
Imam menjelaskan kepada umat islamtentang peristiwa yang menjadi tonggak peradaban islam agar tidak dilupakan dan dihapus. Imam berkata tentang kakeknya Ali bin abi thalib as “(Ali bin thalib as) adalah orang yang mendapat wilayahdan ditetapkan baginya imamah pada hari Ghadi khum dengan sabda Rasul saww dari Allah yang berbunyi ‘…sesiapa yang menjadikan aku (Rasul saww) sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa saja yang menjadikannya pemimpin, musuhilah siapa saja yang memusuhinya, tolonglah siapa saja yang menolongnya, jauhilah siapa saja yang menjauhinya dan bantulah siapa saja yang membantunya’ ”xiii
Dalam hal ini imam ingin menjelaskan betapa mulianya tingkat imamah dan imamah ini dipegang oleh Ali bin abi thalib as dan keturunannya yang suci. Maka, tentulah manusia harus menjadikan para imam Ahlulbayt sebagai rujukan mereka yang utama, bukan kepada para ulama-ulama bayaran bani Umayyah.

Imam dalam menghadapi gerakan kebudayaan dan pemikiran
Imam dalam menghadapi gerakan ekstrimisme
Beliau bersikap tegas terhadap kelompok ekstrimis ini. Disebutkan bahwa imam berkata kepada Sudair “wahai Sudair, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku dan darahku bebas dari mereka para ekstrimis. Allah dan rasulNya putus hubungan dengan mereka. Mereka tidak berada dalam agamaku dan agama ayahku dan Allah tidak akan mengumpulkanku dengan mereka satu haripun kecuali Dia murka kepada mereka”xiv.
Isa bin manshur meriwayatkan bahwa imam berdoa “ya Allah, laknatlah Abul Khattab karena dia telah meresahkanku dalam keadaan berdiri dan duduk serta diatas tempat tidurku. Ya Allah, siksalah dia dengan panasnya besi”xv
Abul khattab adalah salah satu penyebar pemikiran ekstrim ini. Dia memilih Kufah sebagai objeknya karena dia tahu Kufah adalah basisnya para pecinta ahlulbayt.
Para ekstrimis meyakini bahwa sesuatu yang non materi sangat mungkin tampak secara fisik. Seperti Jibril as yang pernah menampakkan diri sebagai seorang badui. Dan juga setan berbentuk manusia yang melakukan berbagai kejahatan dan menampakkan jin kedalam diri manusia sehingga berbicara dengan lisannya. Demikian juga mereka meyakini bahwa Allah tampak dalam bentuk manusia.
Pemahaman ini mendapat kecaman keras dari imam. Pada suatu hari Basyar syairi (salah seorang ekstrimis) menemui imam. Saat itupula imam mengusirnya “pergi dariku! Allah akan melaknatmu. Allah tidak akan menaungiku dalam satu atap bersamamu selamanya!”xvi

Imam dalam mengajarkan syariat
~. Membuka ruang belajar secara luas untuk mengajarkan metode-metode pemahaman syariat yang benar.
Disamping menghadang paham ekstrimisme dll, imam juga menghadapi gerekan-gerakan fiqih yang bertentangan dengan esensi syariat islam. Atas dasar inilah, beliau melarang sahabatnya untuk beramal dengan cara yang non islami. Seperti pesan imam kepada Abban “wahai Abban, sesungguhnya jika sunnah dikiaskan agama akan hancur”xvii
Abu hanifah mengadopsi mazhab kias ini untuk mengamalkannya sebagai salah satu sumber hukum. Namun dengan tegas imam menolak pemahaman ini.
Berikut adalah sepenggal dialog antara Abu hanifah dengan imam Ja’far as. Syubrunah dan Abu hanifah menjumpai imam. Beliau bertanya kepada Syubrumah “siapakah yang bersamamu ini? dia menjawab “seseorang yang mempunyai visi dan memberikan pengaruh dalam masalah agama” imam berkata “diakah yang telah mengiaskan masalah agama berdasarkan pendapat sendiri itu?” dia menjawab ”Ya” imam menoleh kearah Abu hanifah kemudian bertanya “siapa namamu?” dia menjawab “Nu’man” imam bertanya “wahai Nu’man, apakah kamu mengiaskan kepalamu?” dia menjawab “bagaimana aku mengiaskan kepalaku?” imam berkata “aku tidak melihatmu melakukan sesuatu yang baik. Apakah kamu mengetahui kadar garam yang terkandung di kedua mata, kadar pahit yang ada dalam kedua telinga, kadar dingin dalam lubang hidung dan kadar manis diantara dua bibir?”
Abu hanifah menyatakan kekagumannya dan ketidak-tahuannya. Imam bertanya lagi “apakah kamu tahu kalimat yang awalnya adalah kufur dan akhirnya adalah iman?” Abu hanifah menjawab “tidak”. Kemudian Abu hanifah memohon kepada imam agar menjelaskan kepadanya makna ungkapan beliau. Imam berkata “ayahku memberitahuku dari kakekku Rasul saww, beliau bersabda ‘sesungguhnya Allah dengan keutamaan dan kebaikannya telah menciptakan kadar garam dalam kedua mata anak-anak adam untuk membersihkan kotoran-kotoran yang terdapat didalamnya. Menciptakannya kadar pahit pada kedua telinga sebagai tameng dari binatang. Jika binatang masuk kedalam kepala melalui telinga dan mengarah keotak, maka karena rasa pahit itu dia akan keluar. Allah menciptakan kadar dingin dalam kedua lubang hidung agar udara dapat dihirup oleh keduanya. Seandainya tidak demikian otak akan membusuk. Allah menciptakan kadar manis diantara dua bibir agar dapat merasakan lezatnya makanan”. Abu hanifah memandang imam sambil bertanya “beritahuku tentang kalimat yang awalnya adalah kufur dan akhirnya iman”
Imam menjelaskan “sesungguhnya seorang hamba jika mengatakan ‘tidak ada Tuhan’ maka dia kafir. Jika dia melanjutkan dengan kalimat ‘selain Allah’ maka itu adalah iman”.
Imam kemudian mendekati Abu hanifah dan berkata “wahai Mu’man, ayahku memberitahuku dari kakekku Rasul saww bersabda ‘pertama kali yang melakukan kias dalam masalah agama dengan pendapatnya sendiri adalah iblis. Allah berfirman kepadanya sujudlah kamu kepada Adam lalu dia berkata ‘aku lebih baik darinya, engkau ciptakan aku dari api dan engkau menciptakannya dari tanah’ ”xviii

Kita harus berterima kasih kepada imam karena :

Imam telah membendung gerakan Zandaqah (ateis) dari pemikiran pengikutnya
Imam telah membendung gerakan Al-jabr (pemaksaan) dari pemikiran pengikutnya
Imam telah melawan Penyelewengan terhadap sejarah kehidupan rasul saww
Imam telah melawan Penyelewengan terhadap hadits nabi saww
Imam telah melawan penyelewengan terhadap tafsir Al-qur’an.
Imam telah menjelaskan bahwa pemerintahan diktator adalah tidak sah. Beliau melarang umat islam berkonsultasi kepada para penguasa
Imam mengharamkan kerjasama dengan rezim biadab, para diktator. Apabila telah bekerja sama dengan pemerintah maka hendaknya dia memutuskan hubungan itu.
Imam memberikan pendidikan kepada umat islam tentang risalah ilahiah (ketuhanan) yang kewenangannya telah dirampas dari pangkuan umat islam.
Imam juga menjelaskan pribadi amiril mukminin Ali bin abi thalib as dengan hadits Ghadir.
Imamtelah membuka ruang belajar secara luas untuk mengajarkan metode-metode pemahaman syariat yang benar.

Dan jika dilihat poin-poin diatas masih ada sampai sekarang, kita bisa melihat para pecinta ahlulbayt tidak pernah mempercayai pemikiran al-jabr (pemaksaan) karena imam Ja’far shodiq as dan juga ayah-ayah imam serta anak-cucunya yang suci nan mulia. Maka, apa jadinya kita kalau tidak ada sang maha guru imam Ja’far bin muhammad ash-shodiq ini?
Jadi, berterimakasihlah kepada imam yang telah menjaga kemurnian risalah kakeknya Muhammad rasulullah saww. Bagaimana cara berterimakasih? Ada banyak cara untuk berterima kasih, salah satunya ialah

Imam Ja’far shodiq as berkata :
Wahai sekalian syi’ah, jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik kepada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelek”xix
Dalam kesempatan lain imam juga bersabda :
hai sekalian syiah, sesungguhnya kalian telah dinisbahkan kepada kami, maka jadilah penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng!”xx

Referensi:
Ja’far shodiq sang maha guru:
Sejarah singkat 14 maksum, jilid 2 :
Ahlulbayt nama-nama yang terlupakan :




i Ibnu katsir, tafsir al-qur’an adzim, jilid 3, hal 106)
ii Shahih tirmidzi, jilid 5, hal 687, bab manaqib Muawiyah)
iii Shahih Bukhari, jilid 1, hal 169; Shahih Muslim, bab Shalat al-‘idain, jilid 2, hal 607; Musnad Ahmad bin hanbal, jilid 6, hal 38
iv Al-imam As-shodiq wa al-mazahib al-arba’ah, jilid 2, hal 122
v Lisan al-mizan, jilid 2, hal 105
vi Amali al-murtadha, jilid 1, hal 284
vii Hayat al-imam al-baqir; Dirasat wa tahlil, jilid 1, hal 72
viii Ansab al-asyraf, jilid 3, hal 439,446
ix Wasa’il as-syiah, jilid 27, hal 13, dari Al-kafi , al-faqih dan at-tahdzib
x Ibid, jilid 17, hal 179, dari At-tahdzib
xi Al-kafi, jilid 5, hal 106; Biharul anwar, jilid 47, hal 138
xii Al-mizan, jilid 2, hal 267
xiii Ad-durr al-mantsur, jilid 2, hal 298; Syawahid at-tanzil, jilid 1, hal 187 dll
xiv Ushul al-kafi, jilid 1, hal 629
xv Awalim al-ulum wa al-ma’arif, jilid 20, hal 2
xvi Ibid, hal 400
xvii Biharul anwar, hal 104-105
xviii Ushul al-kafi, jilid 1, hal 58; Biharul anwar, jilid 47, hal 226
xix Biharul anwar, jilid 68, hal 151
xx Misykat al-anwar, hal 67