Syiah dan Kerukunan Umat
(Artikel
ini ditulis sebagai klarifikasi atas artikel dan pandangan Adian
Husaini dan Bahtiar Nasir di Islamia-Insist di Republika)
*Haidar Bagir*
Meski
sebelumnya pun keadaannya sudah seperti api dalam sekam, peristiwa
Sampang telah menyalakan lagi wacana tentang sah-sesatnya mazhab
Syi’ah. Seperti sebelum-sebelumnya, umumnya wacana yang berkembang
didominasi oleh perdebatan dan saling tuduh yang simpang-siur. Tak
sedikit di antaranya mengambil bentuk debat-kusir. Yang lainnya
dipenuhi upaya-upaya mengajukan bukti-bukti yang selektif dan bias –
kutipan-kutipan yang dilepaskan dari konteks, pilihan-pilihan pendapat
yang ganjil (/syadz/) atau minoritas dari kalangan Syi’ah, malah tak
jarang cerita-cerita tanpa dasar yang cuma dikarang-karang belaka.
Tapi,
dalam keadaan-keadaan seperti ini, selalu saja ada suara-suara yang
proporsional dan tetap rekonsiliatori, bahkan di antara para pengkritik
keras Syi’ah. Yakni, betapa pun intinya mengecam apa yang dianggap
sebagai kekeliruan keagamaan dan sosial kaum Syi’ah, isinya bersifat
nasihat dan tujuannya adalah memelihara kedamaian di antara para
pengikut mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.