Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
Tampilkan postingan dengan label Republika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Republika. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

Syria di Republika


Pada 11 Februari lalu, kolom Resonansi  harian Republika menurunkan sebuah artikel yang menurut saya sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang jurnalis senior, mantan Pemimpin Redaksi harian besar di Indonesia itu,sedemikian awamnya dalam memahami konflik Syria dan konstelasi politik global? Sang jurnalis yang bernama Ikhwanul Kiram Mashuri (IKM) itu menyandarkan analisisnya dari sebuah video yang  belum diverifikasi kebenarannya, lalu menyimpulkan bahwa "musuh umat Islam tidak hanya Zionis, melainkan juga rezim brutal seperti Assad."
Bagaimana mungkin seorang jurnalis senior sampai tidak tahu bahwa perang Syria sangat diwarnai perang propaganda dan bahkan disebut-sebutsebagai "A PhotoshopedRevolution" saking banyaknya rekayasa informasi foto yang diunggah melalui internetuntuk memprovokasi opini publik. Berkali-kali pihak oposisi mengunggah foto berdarah-darah di internet dan menyebutnya sebagai ‘korban Assad'. Lalu, biasanya para blogger-lah (sayang sekali, mengapa bukan jurnalis?) yang berjasa  menemukan bukti bahwa foto-foto itu mengabadikan kejadian berdarah di tempat lain (umumnya di Gaza).  Bahkan kantor berita sekelas BBC ketahuan menggunakan foto korban perang Irak dan menyebutnya itu korban pembantaian tentara Assad.

Minggu, 22 Januari 2012

Artikel Haidar Bagir di Republika, Artikel bantahan Fahmi Salim di Era Muslim dan Artikel bantahan M. Anis tentang Syiah

Syiah dan Kerukunan Umat

(Artikel ini ditulis sebagai klarifikasi atas artikel dan pandangan Adian Husaini dan Bahtiar Nasir di Islamia-Insist di Republika)

 *Haidar Bagir*

Meski sebelumnya pun keadaannya sudah seperti api dalam sekam,  peristiwa Sampang telah menyalakan lagi wacana tentang sah-sesatnya  mazhab Syi’ah. Seperti sebelum-sebelumnya, umumnya wacana yang  berkembang didominasi oleh perdebatan dan saling tuduh yang  simpang-siur. Tak sedikit di antaranya mengambil bentuk debat-kusir.  Yang lainnya dipenuhi upaya-upaya mengajukan bukti-bukti yang selektif  dan bias – kutipan-kutipan yang dilepaskan dari konteks,  pilihan-pilihan pendapat yang ganjil (/syadz/) atau minoritas dari  kalangan Syi’ah, malah tak jarang cerita-cerita tanpa dasar yang cuma  dikarang-karang belaka.

Tapi, dalam keadaan-keadaan seperti ini, selalu saja ada suara-suara  yang proporsional dan tetap rekonsiliatori, bahkan di antara para  pengkritik keras Syi’ah. Yakni, betapa pun intinya mengecam apa yang  dianggap sebagai kekeliruan keagamaan dan sosial kaum Syi’ah, isinya  bersifat nasihat dan tujuannya adalah memelihara kedamaian di antara  para pengikut mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.