Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Kamis, 31 Maret 2011

Kisah Hikmah Para Ulama


Tetangga
Ada seorang ulama besar yang bersama Sayyid Jawad Amuli. Pada suatu saat, ketika beliau sedang bersantap malam, terdengar ketukan pintu. Telah datang seseorang yang membawa pesan dari guru beliau, Sayyid Mahdi Bahrul Ulum.
'Guru anda memanggil anda dengan segera. Dia menolak untuk makan malam hingga bertemu anda' kata si pembawa pesan. Sayyid Jawad Amuli langsung meninggalkan makan malamnya dan dengan tergesa-gesa menuju rumah gurunya. Ketika masuk ke dalam rumah, beliau melihat gurunya sangat marah. Begitu melihat Sayyid Jawad Amuli, sang guru berkata, '...tidakkah engkau malu pada dirimu sendiri... apakah engkau tidak menghormati Allah... ?' Sayyid Jawad bingung! Beliau tak mengetahui kesalahan apa yang telah beliau perbuat, sehingga beliau meminta kepada guru beliau untuk memberi tahu kesalahannya. Sayyid Mahdi berkata, 'sekarang ini, sudah seminggu penuh tetanggamu dan keluarganya tidak memiliki makanan. Tetanggamu meminta dari penjual beberapa butir kurma seraya mengatakan bahwa akan membayarnya ketika telah memiliki uang. Namun, penjual makanan itu menolaknya. Tetanggamu pulang ke rumahnya dengan tangan hampa, tanpa ada makanan bagi keluarganya.' Sayyid Jawad berkata bahwa dia tidak mengetahui hal ini. 'itulah mengapa kau marah kepadamu. Bagaimana bisa engkau tidak mengetahui (tidak peduli terhadap) tetanggamu ? Mereka selama tujuh hari berada dalam kesulitan sementara engkau tidak mengetahui hal itu ! Baiklah ! Jika telah tahu tetapi tetap tidak berbuat sesuatupun, maka engkau sama sekali bukan seorang muslim' kata Sayyid Mahdi. Kemudian Sayyid Mahdi berkata kepada Sayyid Jawad untuk mengambil semua makanan yang ada padanya dan membawanya kepada tetangganya. 'duduklah bersamanya ketika makan sehingga dia tidak merasa malu. Bawalah uang ini untuknya lalu letakkan dibawah bantal atau permadaninya sehingga dia tidak merasa dipermalukan. Saat engkau telah melaksanakan hal ini, beri tahu saya! Saya tidak akan makan hingga semuanya selesai dilaksanakan.'

Kamis, 24 Maret 2011

Syiah Indonesia Antara Janji dan Harapan

Mungkin disini kita perlu mengkaji sejauh mungkin perjalanan syiar Ahlulbait as di Indonesia ini pada tahapan metodelogis, gerak dan siasat syiar bukan hanya pada tatanan teori yang bersumber pada tatanan yang benar tanpa melupakan unsur budaya lokal, sejarah, kondisi dan situasi masyarakat Indonesia secara umum baik yang berupa keyakinan, pemikiran, kehidupan serta mitos yang ada padanya.
Mohammad Habri Zen S.Si

Peran Wanita dalam Revolusi Imam Zaman afs (‘ajjalallahu farajahu asy-syarif)



Ini Baru Wanita Muslim !
 Dalam riwayat disebutkan bahwa sebagian besar pengikut Dajjal adalah wanita dan orang-orang Yahudi [1]. Namun ini tak berarti bahwa dalam revolusi Imam Zaman tak ada peran bagi wanita. Sebab, menurut sebagian riwayat yang lain, para wanita memiliki andil yang besar dalam revolusi Imam Zaman afs.

            Dari Mufadhdhal bin Umar ra yang mengatakan ‘aku mendengar Imam Ja’far ash-shodiq as berkata ‘akan bersama al-qo’im (Imam Zaman) 300 perempuan.’ Aku bertanya ‘apa tugas mereka ?’ beliau as menjawab ‘mereka mengobati orang-orang yang menderita luka dan merawat orang-orang yang sakit sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita di zaman Rasulullah saww...’[2]

Kamis, 17 Maret 2011

Imam Hasan bin Ali al-askari as, ayahanda Imam Mahdi al-muntadzar afs




Rasulullah saww adalah penutup para nabi dan rasul. Setelah beliau wafat, wahyu ilahi tidak pernah lagi turun ke bumi. Risalah Tuhan telah disempurnakan oleh Rasulullah saww. Ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah agama terakhir dari rangkaian agama-agama samawi. Umat islam adalah umat terbaik. Begitu pula ajaran dan syariatnya. Hal ini jelas diketahui oleh Allah dan RasulNya, keadilan dan kasih sayangNya menuntut keberadaan islam yang akan terus lestari hingga kiamat ini harus dijaga oleh manusia-manusia yang pantas dan tepat. Allah swt tak akan membiarkan umat islam tanpa pemimpin yang ditunjuk langsung olehNya.akal pun menghukumi bahwa islam (agama tersempurna) harus dipimpin oleh orang-orang yang juga sempurna, dari segi apapun. Baik ilmu, akhlak, ibadah, dst. Mengingat pentingnya keberadaan pemimpin (imam) setelah Rasulullah saww wafat, beliau jauh-jauh hari sudah mengenalkan pada umat islam siapa pemimpin mereka. siapa manusia sempurna yang paling cakap memimpin umat. Beliau saww bersabda ‘aku tinggalkan dua pusaka berharga ditengah kalian, al-qur’an dan keturunanku (ahlulbaytku). Keduanya tidak akan berpisah selamanya, dan jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat’ (HR Muslim)
Assalamu alaika ya Aba Muhammad Hasan Ibn Ali as
Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba mengenal salah satu manusia suci pusaka Rasul itu, beliaulah Imam Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ‘alaihimus salam.

Sabtu, 26 Februari 2011

Teman, Imam Zaman selalu memerhatikanmu dimanapun kau berada

Sore itu, Hasan membuka kotak masuk di akun Facebooknya. Seperti dugaannya, terdapat pesan dari sahabat karibnya, Rasyid. Semenjak Rasyid meninggalkan Indonesia demi mengejar setetes ilmu di negeri paman sam (Amerika), dua sahabat ini hanya berhubungan lewat dunia maya. Sudah hampir dua bulan ini, Rasyid tak pernah menghubunginya. Kali ini, Rasyid menghubunginya namun seakan dia telah berubah jauh. Rasyid tengah dilanda kejenuhan dan keraguan. Rasyid baru saja mengenal Ahlulbayt, tapi sekarang dia harus hidup tanpa seorang temanpun yang meyakini imamah Ahlulbayt as. Di Amerika sana, Rasyid sedemikian sibuk mencari ilmu yang tak mengantarnya menuju Tuhan. Karena paksaan orang tua, dia harus menjadi seorang seniman. Inilah sebabnya, kenapa sekarang dia tengah berada di negeri para pemuja nafsu itu. Dia tak pernah ingin menjadi seniman. Apa boleh dikata, dia hanya bisa menuruti pilihan orang tua yang amat dia sayangi. Lima tahun sudah Rasyid dirundung gelisah. Bagaimana tidak, kata ‘seniman’ tak pernah ada dalam kamus masa depannya, ditambah perasaan menyesal tak mampu memperdalam ilmu-ilmu Ahlulbayt yang bak mutiara itu. Semakin hari, kecintaannya pada Ahlulbayt semakin berkurang. Hingga akhirnya ia mulai meragukan keberadaan Imam Zaman afs. buktinya Imam Zaman tak pernah memerhatikannya. Berulang-ulang kali ia memastikan hati dan pikirannya bahwa Imam Zaman selalu menyertainya, namun berkali-kali ia gagal. Hampir saja ia melepas keyakinannya di tengah arus pengkafiran yang dahsyat di Amerika sana. Beruntung, ia masih memiliki Hasan, saudara seiman yang tak pernah berhenti meyakinkan dirinya bahwa Ahlulbayt itu adalah cahaya, maka jangan pernah kau pergi menjauh darinya, atau kau hanya akan berteman kegelapan dan kehancuran.
Ya Mahdi Adrikna !

Sabtu, 19 Februari 2011

Mengidolakan Rasulullah saww


‘Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat sedang dia banyak mengingat Allah’ (Q S Al-ahzab : 33)

Muhammad, Rahmatan Lil 'Alamin
Dewasa ini, kaum muslim mulai meninggalkan pribadi-pribadi agung yang terlahir sebagai pahlawan islam. Sebaliknya, dengan berbangga hati kaum muslim akan mengatakan bahwa mereka adalah salah seorang pecinta manusia-manusia biasa yang tiada pernah menjadi pujaan malaikat. Anak-anak muda sekarang lebih mengenal Justin Bieber dibanding Husen Fahmideh, seorang pemuda yang berani meluluh-lantahkan dirinya demi menjaga negeri tercinta. Ini jelas-jelas merupakan krisis percaya diri dan karakter. Umat islam akan malu menggunakan ‘peci’, sebaliknya akan sangat bangga ketika rambutnya disisir meniru gaya rambut artis-artis dalam maupun luar negeri.
Krisis percaya diri inilah yang diinginkan manusia-manusia setan. Karena, setelah umat islam mulai meninggalkan para pahlawan-pahlawan islam dan berpaling pada pahlawan-pahlawan palsu ala setan, otomatis islam hanya akan tinggal nama. Kejayaan islam yang telah dirintis dengan darah dan keringat akan segera roboh setelah umat islam tidak lagi mengenal manusia-manusia Tuhan, setelah umat islam melupakan nama Muhammad bin Abdullah saww. Ketika ini terjadi, para malaikat yang menyaksikan proses lahirnya agama sempurna ini hanya akan menunduk kalah terhadap setan-setan yang berhasil membujuk konco-konconya untuk bersama-sama menghapus islam dari ingatan manusia.

Khutbah Amirul Mukminin as dalam Nahjul Balaghah Berkenaan dengan Nabi saww


Ya Rasulallah!
"Allah mengutus Nabi saww ketika misi para nabi lainnya as telah berhenti dan manusia sedang tertidur lama. Kejahatan sedang mengangkat kepala, semua urusan sedang dalam keterbengkalaian dan api peperangan bergejolak, sementara dunia kosong dari cahaya dan penuh dengan tipu daya terang-terangan. Daun-daunnya telah menguning, tak ada harapan akan buahnya, sementara air menghilang ke bawah bumi. Menara petunjuk telah lenyap dan tanda-tanda kehancuran telah muncul. Ia (dunia) keras terhadap manusianya dan membelalak ke wajah pencarinya. Buahnya adalah fitnah, makanannya bangkai. Busana batinnya adalah ketakutan sedang busana lahirnya pedang..." (Khutbah ke 89)

Mutiara Hikmah Ahlulbayt : Ilmu dan penuntutnya


Imam As-sajjad as berkata ‘seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam ilmu, maka mereka akan mengejarnya walaupun mereka mesti berlayar dan mempertaruhkan hidupnya demi ilmu’ (ushul kafi, jld 1, hal 35)
Hadits diatas dengan sangat indah mengungkapkan betapa mulia dan pentingnya ilmu. Imam Sajjad as hendak menjelaskan pada kita bahwa ilmu lebih penting dibanding apapun. Rasulullah saww bersabda ‘barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menempatkannya diatas jalan menuju surga. Dan sungguh, malaikat akan merendahkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena merasa ridho padanya...’ (al-kafi, kitab al-aql, bab 5, hadits 1)

Kamis, 17 Februari 2011

Pertanyaan-pertanyaan Seputar Keghaiban Imam Zaman afs


Al-'ajal Ya Mahdi
                Kebanyakan dari kita (termasuk saya) sering mempertanyakan keghaiban Imam zaman. Kita sering bertanya, di manakah beliau afs ? kenapa beliau tidak menampakkan diri ? bukankah beliau pasti dijaga Allah dari musuh-musuh-Nya ? dst
Pertanyaan-pertanyaan di atas sah-sah saja, jika niat yang mendorong kita baik. Yakni, kita hendak mencari tahu kebenaran kemudian kita meyakini kebenaran tersebut.
Pada kesempatan ini, kami mencoba menjawab beberapa pertanyaan tentang keghaiban imam zaman afs.

Pertanyaan pertama :
‘kenapa imam Mahdi afs harus ghaib ? bukankah imam dibekali ilmu yang mampu meluluh-lantahkan kejahatan !?’
Jawaban :

Sabtu, 12 Februari 2011

Sekilas Tentang Wilayatul Faqih



Sayyid Ali Khamenei dan Sayyid Ruhullah Musawi
                Wilayatul faqih adalah niyabah (pemegang wewenang sementara) Imam Mahdi afs dalam memimpin umat islam dan menegakkan hukum Allah swt yang merupakan mandat dari beliau afs. Wilayatul faqih merupakan pancaran cahaya, sinaran inti bintang dan ranting dari dahan pohon suci beliau afs.

Al-wilayah, perlindungan
                Harus diketahui bahwa agama menetapkan wilayah (otoritas atau kekuasaan untuk mengatur, memerintah dan melarang) sebagian orang atas sebagian yang lain adalah untuk menjaga orang yang berada didalam naungan wilayah tersebut. Misalnya, wilayah (perwalian) seorang ayah atas anaknya yang masih kecil, perwalian seorang ayah dalam menikahkan anak gadisnya dst. Wilayatul faqih berfungsi menjaga kepentingan umum dan melindungi masyarakat dari penyimpangan, kerusakan dll. Wilayah terikat untuk menjaga kepentingan orang yang berada di naungan perwalian, sang wakil tidak berhak mengatur berdasarkan hawa nafsu, kepentingan dan hasrat pribadinya.

Rabu, 09 Februari 2011

Al-Mahdi, Keadilan dan Kebahagiaan Akhir Zaman



Dimanakah bahtera penyelamat?
Dini hari menjelang subuh, tanggal 15 Syaban 255 Hijriyah, rumah Imam Hasan al-Askari (as) diterangi oleh cahaya imamah yang lahir dari rahim wanita suci bernama Narjis. Kelahiran bayi ini disambut dengan suka cita oleh sang ayah sebab dialah yang kelak akan menjadi pemimpin dunia dan menegakkan keadilan dan kebenaran di seluruh muka bumi. Dialah al-Mahdi yang berita kedatangannya sudah dikabarkan oleh para Nabi. Sekitar 30 tahun lalu Dr Mohammad Tijani, ulama dan cendekiawan asal Tunis dalam bukunya yang berjudul ‘Tsumma Ihtadaitu’ (Akhirnya Kutemukan Kebenaran), menulis, “Selama ini saya meyakini bahwa khilafah adalah masalah politik murni yang tak ada kaitannya dengan agama. Tapi setelah melakukan telaah mendalam dan luas, akhirnya saya dapatkan bahwa masalah imamah atau kepemimpinan adalah salah satu masalah inti agama. Imam Mahdi (as) adalah figur terakhir dari silsilah pemimpin dari keturunan Nabi yang kelak akan membebaskan umat manusia dan menampakkan kebesaran Islam.”
Tijani menegaskan bahwa prisip Mahdisme menjadi salah satu faktor ketertarikan orang di luar Islam kepada ajaran ini. Sang Doktor mengatakan, “Ketertarikan kepada Islam yang semakin tinggi dan mengundang keheranan kalangan para sosiolog dan peneliti agama di seluruh dunia disebabkan oleh faktor adanya prinsip keselamatan umat Manusia di akhir zaman. Seiring dengan memancarnya cahaya Islam di dunia, upaya keras untuk memerangi agama ini juga terus meningkat. Namun pada akhirnya, Imam Mahdi (as) bakal muncul laksana mentari yang menerangi seluruh jagat.”
Seiring dengan revolusi Imam Mahdi dan terjadinya perubahan besar yang mengubah nasib umat manusia, Islam akan menjadi agama yang dianut oleh seluruh manusia di dunia. Kebangkitan Imam Mahdi dan penyebaran agama Islam seluruh dunia adalah fakta pasti akan terjadi. Nabi Saw sudah memberikan kabar gembira kedatangan Imam Mahdi dalam sebuah hadisnya. Beliau bersabda, “Saya memberi kabar gembira kepada kalian akan kedatangan al-Mahdi dari umatku. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Dia akan membagi kekayaan dengan benar dan adil.”
Imam Mahdi (as) membawa pesan universal. Kebangkitannya akan membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan dan kezaliman. Kedatangan Imam Mahdi (as) akan menampakkan berkah yang terpendam di langit dan bumi. Syahid Ayatollah Sayid Mohammad Baqir Sadr mengatakan, “Misi yang dipikulkan Allah kepada Imam Mahdi (as) adalah melakukan perombakan besar di alam. Karena itu, revolusi besar ini memerlukan sejumlah persyaratan seperti revolusi-revolusi sosial lainnya. Revolusi ini bakal membawa umat manusia keluar dari kegelapan kezaliman kepada cahaya keadilan.”
Salah satu gelar paling terkenal untuk Imam di akhir zaman ini adalah ‘al-Mahdi’ yang berarti ‘orang yang diberi petunjuk’ dan ‘al-Qaim’ yang artinya ‘orang yang bangkit’. Imam Hasan Askari, ayahanda Imam Mahdi, pernah berkata, “Syukur kepada Allah yang tidak mencabut ruhku sampai aku bisa menyaksikan penerusku. Dia adalah orang yang perilaku dan rupanya paling mirip dengan Rasulullah Saw. Allah akan melindunginya selama masa ghaib dan akan memunculkannya kembali untuk memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi oleh kezaliman.” Rasulullah Saw mengenai Imam Mahdi, dalam sebuah hadis bersabda, “Baqiyyatullah al-Mahdi saat muncul kelak akan duduk di atas mimbar sedangkan umat manusia berbaiat kepadanya. Dia akan memperlakukan mereka seperti aku memperlakukan umat.” Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Al-Mahdi dari keturunanku. Dia akan berperang untuk memperjuangkan sunnahku sebagaimana aku berperang untuk menegakkan wahyu.” Hadis Nabi Saw yang lain menyebutkan, “Dia akan meletakkan kaki dia atas jejakku dan tak akan pernah menyimpang dari jalanku.” “Al-Mahdi adalah salah satu keturunanku. Namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku.”
Sirah Nabi Saw dilandasi oleh sikap kasih sayang dan cinta. Ketika menundukkan kota Mekah saat pasukan Muslim memasuki kota itu, Saad bin Ubadah pemegang panji kelompok Anshar berseru, “Hari ini adalah hari pertempuran.” Suara Saad didengar Rasul Saw. Beliau lantas bersabda, “Tidak demikian, hari ini adalah hari pengampunan dan rahmat.” Imam Mahdi (as) akan mengikuti jejak kakeknya yang mulia. Beliau adalah rahmat bagi umat manusia. Kasih sayangnya kepada umat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Al-Mahdi adalah makhluk Allah yang paling suci, kandungan kemurahan dan kesucian serta mengibar panji keadilan. Nabi menyebutnya Merak penghuni surga. Beliaulah yang kelak akan menghidupkan pelita benderang kebenaran dan keadilan serta membimbing dunia kepada kebahagiaan hakiki. Imam Ja’far Shadiq (as) berkata, “Demi Allah, keadilan yang ditegakkan al-Mahdi akan menembus ke seluruh lorong dan sudut setiap rumah seperti udara panas dan dingin yang menembus ke semua ruang.”
Sejarah manusia belum pernah menyaksikan tegaknya keadilan secara nyata dan sesungguhnya di muka bumi. Padahal manusia secara fitrah mendambakan keadilan dan kedamaian. Manusia memang telah berhasil mencapai banyak kemajuan di bidang ilmu. Namun dalam banyak kasus kemajuan ilmu itu malah membawa petaka dan kehancuran. Kelak di masa pemerintahan al-Mahdi, kemajuan akan dicapai dalam bentuknya yang paling sempurna dengan hasilnya yang dirasakan oleh semua manusia secara nyata. Di masa itu, tak ada celah bagi kemunafikan dan diskriminasi. Hubungan antara berbagai bangsa berjalan atas dasar keadilan, persahabatan dan rasa hormat. Kebenaran hakiki dalam bentuk ajaran Islam akan nampak dan seluruh umat manusia akan mengikutinya. Di masa itu, pemikiran umat manusia akan menyatu. Mereka semua menyembah dan mengagungkan Allah yang Maha Esa. Akal manusia akan mencapai kematangan yang menakjubkan dan ilmu akan berkembang secara mencengangkan. Tak ada kerusuhan, konflik dan ketidakamanan di zaman itu. Firman Allah yang menyebutkan tentang pergantian rasa takut menjadi ketentraman akan menemukan wujudnya yang nyata. Dunia dipenuhi dengan kehangatan, keakraban, perdamaian dan kasih sayang. Dunia benar-benar berada dalam keindahan yang sebenarnya. Untuk menegakkan pemerintahan yang dicita-citakan itu, tentunya al-Mahdi memerlukan para pengikutnya yang setia dan suci. Mereka adalah manusia-manusia pemberani, bijak dan pecinta keadilan. Merekalah yang bakal berjuang di bawah kepemimpinan al-Mahdi untuk menegakkan pemerintahan ilahi yang hakiki. Imam Ali (as) dalam sebuan riwayat menyebutkan bahwa para sahabat al-Mahdi adalah para pemuda. Saat muncul kelak, Imam Mahdi (as) berpenampilan layaknya sosok manusia matang berusia 40 tahun. Jumlah sahabat terdekat beliau 313 orang sama dengan jumlah sahabat Nabi Saw di perang Badr.
Sumber : IRIB

Minggu, 06 Februari 2011

Biografi Ayatullah Murtadha Muthahhari



Ayatullah M Muthahhari
Al-Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari, lahir pada tanggal 2 februari 1920/1338 Hijriyah Qamariyah di Fariman, dekat Masyhad, pusat belajar dan ziarah kaum Muslim Syi’ah yang besar di Iran Timur. Ayahnya, Muhammad Husein Muthahhari, adalah ulama cukup terkemuka.[1]

Biografi Ayatullah al-udzma Sayyid Ali Sistani

Ayatullah Al-Udhma Sayyid Ali Huseini Sistani
Beliau adalah seorang ulama besar yang menguasai banyak bidang ilmu dan memiliki karya-karya yang tak ternilai harganya. Kini beliau merupakan satu-satunya pemimpin hauzah ilmiah di kota Najaf

Lebih dari setengah abad kuliah-kuliah Ayatullah Al-Uzhma Khu`i r.a. merupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Ratusan mujtahid dan faqih lahir berkat klinik ilmiah beliau.
Ayatullah Al-Uzhma Sistani adalah satu dari sekian banyak murid beliau yang paling menonjol. Beliau adalah seorang mujtahid kaliber dan berbudi luhur.
Kelahiran
Ayatullah Al-Uzhma Sistani lahir di kota Masyhad pada tahun 1349 H. dan dari keluarga ruhaniawan yang taat beragama.
Ayatullah Sayyid Ali sistani

Do'a Harian


دُعاءُ يَوْمِ الاحَد

بِسْمِ اللهِ الَّذى لا اَرْجُو اِلاّ فَضْلَهُ وَلا اَخْشى اِلاّ عَدْلَهُ وَلا اَعْتَمِدُ اِلاّ قَوْلَهُ وَلا اُمْسِكُ اِلاّ بِحَبْلِهِ بِكَ اَسْتَجيرُ يا ذَا الْعَفْوِ وَ  الرِّضْوانِ مِنَ الظُّلْمِ وَالْعُدْوانِ وَمِنْ غِيَرِ الزَّمانِ وَتَواتُرِ الاَْحْزانِ وَطَوارِقِ الْحَدَثانِ وَمِنِ انْقِضآءِ الْمُدَّةِ قَبْلَ التَّاَهُّبِ وَ  الْعُدَّةِ وَاِيّاكَ اَسْتَرْشِدُ لِما فيهِ الصَّلاحُ وَالاِْصْلاحُ وَبِكَ اَسْتَعينُ فيما يَقْتَرِنُ بِهِ النَّجاحُ وَالاِْنْجاحُ وَاِيّاكَ اَرْغَبُ فى لِباسِ الْعافِيَةِ وَتَمامِها وَشُمُولِ السَّلامَةِ وَدَوامِها وَاَعُوذُ بِكَ يا رَبِّ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطينِ وَاَحْتَرِزُ بِسُلْطانِكَ مِنْ جَوْرِ السَّلاطينِ فَتَقَبَّلْ ما كانَ مِنْ صَلاتى وَصَوْمى وَاجْعَلْ غَدى وَما بَعْدَهُ اَفْضَلَ مِنْ ساعَتى وَيَوْمى وَاَعِزَّنى فى عَشيرَتي وَقَوْمى وَاحْفَظْنى فى يَقْظَتى وَنَوْمى فَانْتَ اللهُ خَيْرٌ حافِظاً وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّاحِمينَ اَللّـهُمَّ اِنّى اَبْرَأ اِلَيْكَ فى يَوْمى هذا وَما بَعْدَهُ مِنَ الاْحادِ مِنَ الشِّرْكِ وَالاِْلْحادِ وَاُخْلِصُ لَكَ دُعائى تَعَرُّضاً لِلاِْجابَةِ وَاُقيمُ عَلى طاعَتِكَ رَجاءً لِلاِثابَةِ فَصَلِّ عَلى مُحَمَّد خَيْرِ خَلْقِكَ الدّاعى اِلى حَقِّكَ وَاَعِزَّنى بِعِزِّكَ الَّذى لا يُضامُ وَاحْفَظْنى بِعَيْنِكَ الَّتى لا تَنامُ وَاخْتِمْ بِالاِنْقِطاعِ اِلَيْكَ اَمْرى وَ بِالْمَغْفِرَةِ عُمْرى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحيمُ .
Do’a Hari Ahad
Dengan nama Allah yang maha pengasih maha penyayang. Dengan nama Allah, zat yang tak kuharapkan kecuali anugerahNya, tak kutakuti kecuali keadilanNya, tak kupercaya kecuali firmanNya, dan aku tidak berpegang teguh kecuali pada tali (cinta) Nya. Aku berlindung kepadaMu, wahai zat yang maha pengampun dan penuh kerelaan dari kezaliman dan (sifat) permusuhan, silih bergantinya masa dan kesusahan, peristiwa-peristiwa yang tak menyenangkan dan dari tibanya ajalku sebelum aku membekali diri. Hanya kepadaMu aku mohon petunjuk demi membenahi (keadaanku), hanya kepadaMu aku mohon petolongan demi menempuh jalan keberhasilanku, hanya kepadaMu aku mohon perlindungan, serta berlindung kepada kerajaanMu dari kelaliman para penguasa dzalim, maka terimalah shalat dan puasaku. Jadikanlah hari esok dan setelahnya lebih baik dari hari ini. muliakanlah aku dikalangan keluarga dan kaumku. Jagalah aku kala terjaga dan tidur. Engkau adalah Allah  sebaik-baik penjaga dan Engkau pengasih diatas semua pengasih.                   Ya Allah, dihari ini dan seterusnya, aku bersimpuh di haribaanMu demi membebaskan diri dari cengkraman syirik dan kufur. Aku menyeruMu dengan tulus demi mengharap pengabulanmu, dan senantiasa aku menaatiMu demi mengharap pahalaMu, oleh karena itu, limpahkanlah shalawat atas Muhammad, makhluk termuliasMu yang mengajak (manusia untuk mengenal) hakMu, muliakanlah aku dengan kemuliaanmu yang tak pernah ternodai (oleh kehinaan), jagalah aku dengan (pengawasan) mataMu yang tak pernah pejam dan akhirilah segala urusanku dengan penyerahan penuh kepadaMu (serta tutuplah) umurku dengan pengampunanMu, karena sesungguhnya Engkau maha pengampun dan penyayang.