Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Minggu, 22 Januari 2012

Artikel Haidar Bagir di Republika, Artikel bantahan Fahmi Salim di Era Muslim dan Artikel bantahan M. Anis tentang Syiah

Syiah dan Kerukunan Umat

(Artikel ini ditulis sebagai klarifikasi atas artikel dan pandangan Adian Husaini dan Bahtiar Nasir di Islamia-Insist di Republika)

 *Haidar Bagir*

Meski sebelumnya pun keadaannya sudah seperti api dalam sekam,  peristiwa Sampang telah menyalakan lagi wacana tentang sah-sesatnya  mazhab Syi’ah. Seperti sebelum-sebelumnya, umumnya wacana yang  berkembang didominasi oleh perdebatan dan saling tuduh yang  simpang-siur. Tak sedikit di antaranya mengambil bentuk debat-kusir.  Yang lainnya dipenuhi upaya-upaya mengajukan bukti-bukti yang selektif  dan bias – kutipan-kutipan yang dilepaskan dari konteks,  pilihan-pilihan pendapat yang ganjil (/syadz/) atau minoritas dari  kalangan Syi’ah, malah tak jarang cerita-cerita tanpa dasar yang cuma  dikarang-karang belaka.

Tapi, dalam keadaan-keadaan seperti ini, selalu saja ada suara-suara  yang proporsional dan tetap rekonsiliatori, bahkan di antara para  pengkritik keras Syi’ah. Yakni, betapa pun intinya mengecam apa yang  dianggap sebagai kekeliruan keagamaan dan sosial kaum Syi’ah, isinya  bersifat nasihat dan tujuannya adalah memelihara kedamaian di antara  para pengikut mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.

Ratapan Sayyidah Fathimah di atas Kubur Ayahnya, Rasulullah saww

Ya Sayyidah nisail 'alamiin

Menurut riwayat yang akurat, beliau mengambil tanah dari kuburan suci itu dan meletakkannya di wajahnya sambil berkata :
مَا ذَا عَلَى الْمُشْتَمِّ تُرْبَةَ أَحْمَدَ * أَنْ لاَ يَشَمَّ مَدَى الزَّمَانِ غَوَالِيَا
Selayaknya bagi orang yang pernah mencium turbah Ahmad untuk tidak mencium wangi-wangian sepanjang masa
صُبَّتْ عَلَيَّ مَصَائِبُ لَوْ أَنَّهَا * صُبَّتْ عَلَى الْأَيَّامِ صِرْنَ لَيَالِيَا
Aku tertimpa musibah demi musibah , seandainya musibah itu diturunkan disiang hari niscaya ia akan menjadi gelap gulita

Kamis, 12 Januari 2012

Imam Ali as di Mata Sahabatnya, ‘Adhi bin Hatim ra

 ‘Adhi bin Hatim adalah salah seorang sahabat dan pecinta Imam Ali bin Abi Thalib as. Laki-laki ini masuk Islam pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah saw, dan dia masuk Islam dengan sesungguhnya. Pada masa kekhalifahan Imam Ali as dia berada di pihak Imam Ali as. Bahkan ketiga anak laki-lakinya, yaitu Tharif, tharaf, dan thaarif, syahid dalam perang Siffin membela Imam Ali as. Setelah syahidnya Imam Ali as dan jatuhnya kekhalifahan ke tangan Muawiyah, secara kebetulan ‘Adhi bin Hatim bertemu dengan Muawiyah.
Muawiyah berharap dengan  mengingatkan ‘Adhi bin Hatim tentang musibah kematian ketiga anak laki-lakinya, maka ‘Adhi bin Hatim akan berbicara mengenai Imam Ali as sesuai seleranya. Muawiyah bertanya kepada dia, ‘bagaimana ketiga anak laki-lakimu: Tharif, tharaf, dan thaarif?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘ketiganya telah syahid dalam perang Siffin di haribaan Ali.’ ‘Adhi bin Hatim sengaja menambahkan kata-kata ‘di haribaan Ali’ dengan maksud untuk menunjukkan kerelaan dan kebanggaan akan kesyahidan tiga orang putranya itu. Muawiyah berkata lebih lanjut, ‘Ali telah berlaku tidak adil terhadapmu, sementara dia mengirimkan anak-anakmu ke medan perang sehingga terbunuh dia malah menempatkan anak-anaknya di belakang medan pertempuran supaya tetap hidup.’ Mendengar kata-kata Muawiyah itu ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘justru sebaliknya saya telah berlaku  tidak adil terhadap Ali, karena saya membiarkannya terbunuh sementara saya masih hidup.’
                Muawiyah melihat dia tidak memperoleh hasil dari rencananya itu, lalu dia mengubah pembicaraannya. Muawiyah berkata kepadanya, ‘gambarkanlah tentang Ali kepadaku.’ ‘Adhi bin Hatim berkata, ‘saya tidak mampu.’ Muawiyah mendesak, ‘tidak mungkin itu.’
                Mendengar itu ‘Adhi bin Hatim pun berkata, ‘kalau sekiranya memang demikian, maka demi Allah, Ali adalah orang yang memiliki wawasan yang jauh, sangat kuat, bicara jelas, memutuskan perkara secara adil, ilmu memancar dari seluruh aspek kehidupannya, yang dari celah-celahnya meluncurlah hkimah. Dia orang yang sangat tidak menyukai kesenangan hidup dunia dan akrab dengan kegelapan malam. Ali adalah orang yang selalu banjir airmata, banyak berpikir, telapak tangannya selalu terbuka, tak pernah berhenti mengajak berdialog dirinya sendiri, berpakaian dan makan secara sangat sederhana.’
‘Demi Allah, dia tidak berbeda dengan kami. Selalu memberi ketika kami minta, menyambut bila kami datangi, dan selalu memenuhi undangan kami. Kami, demi Allah, betul-betul dekat dengannya. Kendati kami begitu dekat, namun kami tidak pernah berani berlagak sombong di hadapannya karena keagungannya. Dan bila dia tersenyum, ah, senyumannya sungguh gemerlap laksana mutiara.’
‘Dia adalah orang yang menghormati para ahli agama, mencintai orang-orang miskin. Orang-orang yang kuat tidak bisa mengharapkan kebatilannya, dan orang-orang yang lemah tidak pernah putus harapan dari keadilannya.’
‘Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku pernah menyaksikan apa yang dilakukannya di suatu malam yang gelap gulita dengan bintang-bintang yang sedang berkedip. Bibirnya bergetar mengucapkan kepasrahannya kepada Allah dan menangis demikian pilu. Masih segar dalam ingatanku, bahwa saat itu dia berkata, ‘wahai dunia, rayulah orang selainku. Aku menolak kedatanganmu dan tak mungkin menyambut bujukanmu. Pergilah, pergilah dari sisiku. Aku telah mentalakmu tiga kali, dan tidak mungkin aku merujukmu.  Umurmu pendek, kehidupanmu hina, sedang bahayamu sangatlah besar. Alangkah murahnya harga dirimu sebagai bekal, sedangkan jarak yang mesti kutempuh sangat panjang dan berat. ’ ’ (Safinah al-bihar, jil.2, hal. 170)
Ketika perkataan ‘Adhi bin Hatim sampai di sini, mulailah airmata Muawiyah berjatuhan, lalu Muawiyah pun mengambil sapu tangannya dan mengusapkannya ke kedua matanya. Ketika itu Muawiyah berkata, ‘semoga Allah swt merahmati Ali, sungguh benar apa yang kamu katakan. Sekarang, katakan bagaimana perasaanmu setelah berpisah dengan Ali ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘keadaanku tidak ubahnya seperti seorang ibu yang anaknya disembelih di pangkuannya.’ Muawiyah bertanya kembali, ‘tidak bisakah engkau melupakannya untuk sejenak ?’ ‘Adhi bin Hatim menjawab, ‘bagaimana mungkin kami bisa melupakannya!’
(Dikutip dari buku ceramah-ceramah seputar persoalan penting agama dan kehidupan, Murtadha Muthahhari, hal. 95-97, buku kedua)

Jumat, 06 Januari 2012

Menelisik Syiah

Oleh Syafiq Basri  Assegaff

Memasuki tahun baru 2012, kekerasan atas nama agama meletus lagi.

Ratusan orang membakar pesantren, mushala, dan rumah warga di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Dosa mereka: karena pesantren yang dipimpin Ustaz Tajul Muluk itu mengajarkan Islam mazhab Syiah yang dianggap sesat.
Reaksi pun datang dari berbagai pihak. Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Umar Shihab menyusul menegaskan bahwa Syiah tidak sesat.

Selasa, 27 Desember 2011

Hadiah Natal dari Imam Khomeini

Penulis dan pemikir Lebanon, Dr. Hasan Az-Zain menulis, “Imam Khomeini mewakili peristiwa besar dalam sejarah. Nama Khomeini identik dengan pergerakan Islam dan sesuatu yang bersih dan abadi. Tidak mungkin memisahkan gagasan Imam Khomeini dan pergerakan yang dihasilkan dari pandangannya tentang apa yang terjadi di seluruh dunia Islam dan lainnya. Ide dan jalan Imam itu hidup dan menghidupkan.”
Imam Khomeini memiliki karakteristik yang begitu mulia, yang dengan itulah ia menghasilkan gelombang pasang surut revolusi Islam dan mengembalikan kepada masyarakat semangat kebenaran, keadilan, kebebasan, persaudaraan, pengorbanan diri dan membela kebajikan.
Bahkan non-muslim terkesan dengan kepribadian dinamis Imam Khomeini. Dokter asal Prancis, Dr. Louie, yang masih remaja pada akhir tahun 1978, bercerita ketika Imam menjadikan sebuah desa di Paris, Neauphle lè Château, sebagai tempat tinggal sementaranya sebelum kepulangannya yang bersejarah ke Tehran dari pengasingan:

Sabtu, 24 Desember 2011

Rahbar, Sang Pemimpin Agung (2)

Betapa Khusyuknya Beliau
Manusia sukses tidak terlepas dari program-program kehidupannya yang dari hari ke hari menghantarkannya ke arah kesempurnaan. Manusia semacam ini mempunyai tujuan tinggi dan setiap hari selalu melihat hal yang baru untuk menggapai tujuannya.
Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei adalah di antara sosok manusia yang melakukan aktivitas politik, sosial dan budaya sejak masa mudanya. Dalam perjalanan hidupnya, beliau melewati banyak masa sulit. Meski demikian, kesibukan Ayatollah Ali Khamenei tak menghalangi ibadah dan spiritualnya. Bahkan spiritual itu dapat disaksikan dalam semua aktivitas Ayatollah Ali Khamenei. Ini semua mencerminkan bahwa Rahbar senantiasa menerapkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as yang tercermin dalam ibadah, kesadaran, kesabaran, perdamaian, jihad, pencerahan atau dakwah dan perilaku mulia lainnya.

Rahbar, Sang Pemimpin Agung (1)

Rahbarku
Ketika Imam Khomeini ra, Pendiri Revolusi Islam Iran, dikabarkan meninggal dunia, hari itu dapat dikatakan sebagai hari yang terpahit bagi bangsa Iran. Masyarakat Iran saat itu sulit membayangkan lanjutnya Revolusi Islam Iran tanpa Imam Khomeini ra. Ini menunjukkan kecintaan mendalam masyarakat Iran kepada Imam Khomeini ra. Hari itu benar-benar merupakan hari berkabung bagi rakyat Iran.

Rabu, 30 November 2011

PARA KSATRIA KARBALA








Perjalanan sejarah telah dipenuhi oleh figur-figur teladan dan tokoh-tokoh besar yang namanya abadi dan tindak-tanduknya layak diteladani. Lembaran hidup mereka mementaskan kepahlawanan, kedermawanan, keramahan, dan kebesaran. Di saat-saat genting sekalipun, kebesaran jiwa mereka tetap menjadi panutan. Kisah tragedi pembantaian keluarga Nabi di Karbala meski menjadi luka yang dalam bagi umat Islam sepanjang sejarah, namun penuh dengan hikmah. Tragedi Karbala adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara kemanusiaan dan kebinatangan, antara kemuliaan dan kehinaan, antara kebebasan dan keterbelengguan.
*  *   *

Ahlulbayt : Nikmat Terindah



‘segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai orang yang berpegang teguh kepada wilayah Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib as.’
                Ungkapan rasa syukur ini sangat masyhur di kalangan pecinta Ahlulbayt. Apalagi ketika tanggal 18 Dzulhijjah datang menyapa. Ya, pada tanggal ini, Imam Ali as dilantik oleh Nabi saw sebagai pengganti beliau dalam hal kepemimpinan atas umat islam. Jika Rasul lebih utama dibandingkan seluruh umat islam, maka Ali pun demikian. Perintah Imam Ali as harus ditaati tanpa ada komplain sedikitpun. Pun larangannya. Apapun yang beliau larang maka harus dijauhi, meski sebagian orang membolehkannya. Kepemimpinan mutlak ini telah diberikan Allah untuk Ahlulbayt Rasul-Nya. Allah telah memilih mereka sebagai hujjah-Nya di muka bumi. Semua perintah Ahlulbayt adalah perintah Allah, dan semua larangan Ahlulbayt adalah larangan Allah ‘azza wa jalla.
Ahlul Kisa'

Kamis, 10 November 2011

Al-Azhar Keluarkan Fatwa Haram Bagi Negara Islam Bersekongkol dengan Barat Menyerang Iran

Mantan Ketua Komisi Fatwa al-Azhar Mesir, Syeikh Abdul Hamid al-Atrash, dalam fatwa terbarunya menyatakan, setiap negara Islam yang bekerjasama dengan Amerika Serikat dan Israel dalam melawan Iran, maka negara tersebut telah dosa dan kejahatan terhadap Islam. 
 
Koran al-Jumhuriyah terbitan Mesir (10/11) menulis, Syeikh al-Atrash menegaskan bahwa setiap setiap negara Arab yang bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam melawan Iran, maka negara tersebut telah melakukan dosa dan kejahatan terhadap Islam, karena membantu musuh yang sama sekali tidak beriman kepada Allah Swt dan rasul-Nya.

Rahbar: Menyerang, Berarti Mereka Siap Menerima Kepalan Baja Iran

Rahbar (Sayyid Ali Khamenei ra)

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memperingatkan bahwa setiap negara yang menyerang Iran, harus siap menghadapi balasan tegas dan kepalan baja militer Iran.
 
Jika ide serangan ke Republik Islam Iran terlintas di benak siapa pun, mereka harus siap menerima tamparan keras dan kepalan baja dari Angkatan Bersenjata Iran, Pasukan Garda Revolusi Islam (Pasdaran), dan Basij.
 
Berbicara di fakultas militer Imam Ali di Tehran pada Kamis (10/11), Rahbar menambahkan bahwa bangsa Iran tidak berniat menyerang negara manapun, akan tetapi bangsa ini akan merespon segala serangan dan ancaman dengan kekuatan penuh sehingga membuat para agresor hancur dari dalam.
 

Minggu, 23 Oktober 2011

Imam Musa Shadr, Simbol Perjuangan dan Persatuan

Imam Musa Shadr
Tepat 32 tahun yang lalu pada tanggal 31 Agustus 1978, Imam Musa Shadr, seorang ulama besar umat Islam dan pemimpin perjuangan Islam Lebanon, di akhir lawatan lima harinya ke Libia, dinyatakan hilang secara misterius.

Jumat, 21 Oktober 2011

Belhadj: Imam Musa Sadr Dimakamkan di Tripoli

Imam Musa Shadr
Ketua Dewan Militer Tripoli, Abdel Hakim Belhadj mengatakan kepada BBC Arab bahwa menurut informasi yang dapat dipercaya, Imam Musa Sadr telah dimakamkan di sebuah peternakan yang terletak di selatan Tripoli, Libya.
Belhaj menambahkan, menurut informasi sebelumnya, Imam Musa Sadr dipindahkan ke Sebha dan kemudian dimakamkan di daerah Al Qalaa. Namun, informasi terakhir menegaskan bahwa Sadr dimakamkan di sebuah peternakan.

Sayid Hasan Nasrullah; Perang akan datang, Tel Aviv target Hizbullah

Fa Inna Hizballah Humul Ghalibuun
Sekjen Hizbullah, Sayid Hasan Nasrullah mengingatkan bahwa bila terjadi perang dengan rezim Zionis Israel maka Tel Aviv yang akan menjadi target para pejuang Hizbullah.
Sebagaimana dilaporkan Mehr mengutip surat kabar al-Akhbar, Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah selama dua pekan lalu melakukan pertemuan dengan para komandan Hizbullah Lebanon dan memperbincangkan banyak masalah.